SENI MENURUT PLATO DUALISME PLATO DUALISME TENTANG DUNIA

 

A DUNIA IDE DUNIA JASMANI
Realitas yang sebenarnya Bukanlah realitas yang sebenarnya
Sempurna, abadi, langgeng, tetap, satu. Plural, banyak, tidak sempurna, berubah-ubah, fana
Model atau contoh – gambaran tak sempurna, meniru
- partisipasi
- hadir dan menjadi nyata dalam benda2 konkret
Menjadi sebab dari benda jasmani. Yang jasmani tergantung yang Idea.

DUALISME TENTANG MANUSIA

B JIWA BADAN/TUBUH
Abadi Fana
Prinsip yang menggerak badan
Mengenal Idea

TATARAN PROSES PENCIPTAAN
Dengan mengikuti pola pemikiran Plato, ada 3 tataran dalam proses penciptaan:
a. Tahap I: Tuhan mencipta, misalnya kursi azali. Kursi ini kursi sejati; tidak material atau mewujud dari suatu bahan tertentu, melainkan dalam wujudnya yang murni, yang disebut forma. Dunia ide adalah satu-satunya yang dikenal oleh akal budi.
b. Tahap II: Tukang kayu yang membuat kursi dari kayu menirukan model pertama tadi. Kursi yang dibuatnya adalah imitasi dari kursi azali yang berada dalam forma tadi. Peniruan ini menurut Plato hanya “menyerupai apa yang ada”, tetapi bukan “menjadi adanya sendiri”.
c. Tahap III: Seniman yang membuat lukisan kursi, bergerak lebih jauh lagi dari kenyataan. Seniman menghasilkan gambaran atau lukisan bukan mengenai kenyataan yang ada di dunia idea, melainkan keserupaan saja dari tiruan yang nyata. Dengan demikian Plato menganggap bahwa seni merupakan tindakan imitasi tahap kedua.

PANDANGAN PLATO MENGENAI REALITAS& SENI
Untuk menelusuri seni, kita harus tahu pandangan para ahli tentang seni. Pandangan seni mulai dibicarakan sejak berabad-abad sebelum Masehi. Salah satu pandangan yang sangat kuno dan terkenal adalah pandangan seorang filsuf Yunani bernama Plato. Seni, bagi Plato memiliki nilai sekunder, hanya meniru kenyataan yang ada di dunia ini. Kesenian hanyalah suatu imitasi dari kenyataan materiil. Padahal kenyataan materiil hanyalah tiruan dari dunia forma. Dunia kita ini hanyalah penampakan dari dunia abadi, dunia ide.
Wujud yang ideal tidak bisa terjelma langsung dalam karya seni. Namun seni tidak kehilangan nilainya sama sekali. Sebab walaupun seni terikat pada tataran yang lebih rendah dari kenyataan yang tampak, seni sungguh mencoba mengatasi kenyataan sehari-hari. Seni yang baik harus truthful, benar; dan seniman harus bersifat modest, rendah hati. Lewat seni dia hanya dapat mendekati yang ideal, dari jauh dan serba salah. Jadi, seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak, terletak di bawah kenyataan itu sendiri. Tetapi seni yang terbaik adalah lewat mimesis, peneladanan.
Untuk memahami pandangan Plato, mungkin perlu terlebih dahulu kita harus tahu latar belakang pemikirannya tentang realitas, tentang manusia. Plato memikirkan realitas dunia ini semu, sebab tidak sempurna. Semuanya hanyalah sementara saja. Kuncup bunga, mekar, layu, dibuang. Semuanya itu hanyalah gambaran dari yang sempurna. Yang sempurna letaknya bukan di dunia realitas, melainkan di dunia ide. Dunia ide adalah dunia kesempurnaan.

BAGAIMANAKAH SENI TERCIPTA?
MUSE, INSPIRASI SENI-nya Plato
Penyair – muse > “gila” (suci) > ekstase > kualitas seni sejati. Bdk dng “orang waras”. Muse: daya dorong buta; mata air membual; ilahi; ada pula inspirasi cinta, inspirasi kebenaran.
Hubungan muse dengan mimesis: jiwa meniru dunia ide yang pernah dipandangnya.
Dalam hubungannya dengan kepenyairan, Plato membicarakan juga tentang inspirasi seni, yang disebut muse. Dalam Ion dikatakan, bahwa penyair yang dihinggapi Muse menjadi gila, sehingga ia merasakan ekstase. Tetapi di sini gila bukan dalam arti penyakit jiwa. Bagi Plato ada kegilaan suci untuk mengejar kebenaran. Ia hanya mau menegaskan bahwa ekstase sangat perlu untuk mencapai kualitas seni sejati. “Apabila orang yang tanpa kegilaan ilahi memasuki pintu kepenyairan, meskipun mengandalkan ketrampilan, ia pasti akan gagal menjadi penyair. Sebab syair dari orang sehat akan kalah di hadapan syair orang gila yang memperoleh inspirasi.” Dalam Laws (hukum2) ia mengatakan: “….. apabila seorang penyair dikuasai oleh inspirasi (muse), dia tak lagi menguasai dirinya, melainkan menyerupai sebuah mata air yang membiarkan segala hal mengalir dari budinya.”
Dalam alam pikiran Yunani, inspirasi (Muse) adalah daya dorong yang buta yang menggerakkan penyair atau seniman untuk berkarya. Dalam kesadaran yang rasional, penyair malahan bisa kehilangan daya kreasinya. Maka dengan menyerahkan diri seluruhnya pada dorongan inspirasi, sang penyair sebetulnya kehilangan akal sehatnya karena ia memperlihatkan sesuatu hal yang tak terjangkau pikiran.
Dalam tradisi Yunani, dipercayai, bahwa inspirasi bersifat ilahi. Di lain pihak, seperti dalam Phaedrus, inspirasi seni hanyalah salah satu dari berbagai macam inspirasi. Di atas inspirasi seni masih ada inspirasi cinta akan keindahan abadi. Inilah inspirasi yang mendorong para filsuf untuk mencari kebenaran.
Muse (inspirasi seni) adalah sesuatu yang baik karena memberi dorongan untuk menghasilkan seni yang baik, menghindari penciptaan seni yang hanya berdasarkan keahlian tehnis.
Hubungan antara muse dengan mimesis. Jiwa tidak hanya baka (tak mati), tetapi juga kekal. Sebelum bersatu dengan badan, jiwa mengalami pra-eksistensi, memandang Idea-idea. Mengenal sesuatu berarti mengingat akan Idea-idea. Dalam keadaan kemasukan muse, jiwa penyair bersentuhan dengan dunia ilahi, dunia idea, dia mengingat akan idea-idea. Maka dalam keadaan kemasukan muse, penyair hanya bisa meneladan dunia idea. Meniru dunia Idea yang pernah dipandangnya.

Kreasio Aristoteles
Aristoteles, murid Plato menolak pandangan gurunya tentang filsafat Ide dan mimesis. Menurut Aristoteles, penyair tidak meniru kenyataan, tidak mementaskan manusia yang nyata atau peristiwa sebagaimana adanya. Seniman mencipta dunianya sendiri, dengan probabilitas yang tak-terelakkan. Menurut Aristoteles, seniman lebih tinggi nilai karyanya daripada seorang tukang. Karena di dalam mencipta itu seniman membuat dunia yang baru. Karya seni adalah sesuatu yang pada hakekatnya baru, asli, ciptaan dalam arti sesungguhnya. Teori ini selanjutnya lebih dikenal teori kreasio.

Dua pendekatan ekstrem mempengaruhi pandangan dan aliran sastra di Barat. Bergerak dinamis dari paham yang satu ke paham lainnya.
Seni yang meneladani alam: Barat, Timur (India, China, Jepang, Melayu, Jawa: Basuki Abdullah & Affandi). Abad Pertengahan: ut natura poesis (seni harus seperti [meneladani] alam). Di dunia Arab, Cina, Jawa ada unio mystica (manunggaling kawula-gusti lewat keindahan).

BERBAGAI PANDANGAN TENTANG SENI SETELAH PLATO & ARISTOTELES

NO WILAYAH PANDANGAN TENTANG SENI
Arab Penyair bukan pencipta dalam arti yang mutlak. Pencipta sejati: Tuhan.

Jawa Kuno Penyair sebagian besar mencari ilham dalam keindahan alam, dengan berkelana, lelangon, menelurusuri keindahan ini. Dalam puisi Jawa Kuno, puisi disamakan dengan unio mystica: Keindahan dianggap penjelmaan dari Yang Mutlak.
India Seni: meluapnya gairah kehidupan. Menurut kepercayaan Hindu, dunia merupakan manifestasi kehidupan Bhatara Siwa yang sedang menari, penuh gairah hidup dan rasa bahagia. Nampak dalam relief-relief candi-candi maupun seni lukis di Bali. Tak dibiarkan ada kekosongan dalam kanvas.
Cina Seni, sastra, harus meneladani tata semesta, kebenaran sejarah dan kebenaran kemanusiaan. Pelukis tidak dihanyutkan oleh hiruk pikuk keramaian dunia. Yang disasar oleh pelukis adalah untuk menangkap Ch’I, roh yang memberi kehidupan. Mengesampingkan keramaian dalam bentuk dan warna yang memabokkan. Seni Cina memberi tempat pada bidang yang kosong maupun waktu hening untuk kontemplasi.

Pandangan Plato tentang keindahan terdapat dalam buku Republic X, diturunkan dari pandangannya mengenai pengetahuan manusia.
ESTETIKA INDIA, CINA DAN JEPANG
Seni Zen Buddhisme (Koesbyanto, J.A. Dhanu, hlm. 65)
Koesbyanto, J.A. Dhanu, Firman Adi Yuwono. 1997.
Pencerahan, suatu Pencarian Makna Hidup dalam Zen Buddhisme. Yogyakarta: Kanisius. Seni merupakan luapan yang sangat natural, sangat dekat dengan alam, menggambarkan bentuk-bentuk dengan jelas dan hidup. Penggambaran alam dikenal sebagai suatu bentuk lukisan asimetris, atau disebut juga sbg gaya ‘satu-sudut’ (Suzuki, 1988: 26-27). Dalam seni Zen, kekosongan juga merupakan bagian dari seni (lukisan). Ungkapan salah satu master seni ‘sudut’ (Mayuan) adalah ‘painting by not painting’. Zen mengungkapkan ‘memainkan kecapi tak bersenar’. Perlu seni menyeimbangkan bentuk-bentuk terhadap ruang ‘kosong’.
“Ketidakseimbangan, ketidaksejajaran suatu ruangan, kemiskinan, sabi atau wabi, kepalsuan, kesunyian, merupakan ciri khas budaya dan seni Jepang (Suzuki, 1988: 27-28).
“Bentuk yang mudah dilihat, disentuh, dan dirasakan sebagai suatu hasil pengetahuan intuitif ditemukan dalam seni. Alasan mengapa seni mendapat tempat khusus untuk memahami ajarah Zen, karena karya seni dalam Zen merupakan wujud nyata yang bisa dirasa atau direfleksi. Ajaran tentang hidup dalam Zen ditemukan dalam seni. Suzuki menyatakan, Life is an art, yaitu hidup merupakan manifestasi kebebasan. Seperti burung-burung di awan dan ikan-ikan di air, itulah hidup. Bentuk kebebasan hidup tergambar dalam seni, yang tidak lain adalah kehidupan itu sendiri (Suzuki, 1969: 69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>