SASTRA DAN STUDI SASTRA (Wellek & Warren)

 

Sastra: kegiatan kreatif; sebuah seni. Studi sastra: cabang ilmu pengetahuan.

Hubungan sastra dan studi sastra menimbulkan beberapa masalah rumit. Beberapa tawaran jalan keluar.
Pertama-tama harus dibedakan antara sastra dan studi sastra. Semula ada usaha mengaburkan perbedaan ini. Katanya, seorang penyair harus bisa menilai syair-syair yang baik maupun yang jelek. Sebaliknya seorang pemerhati drama, puisi haruslah seorang dramawan maupun penyair. Tidak mungkin kita mempelajari drama Inggris dari periode tsb, tanpa mencoba belajar mengarang drama dalam bentuk blank verse, ciri khas drama zaman Elizabeth di Inggris. Demikian pula, orang tidak bisa mempelajari pantun maupun syair tanpa terlebih dulu mencoba membuat bentuk puisi khas Melayu itu. Kita harus belajar membuat bentuk puisi tembang sebelum mencoba membicarakan jenis bentuk puisi Jawa tersebut.
Latihan kreatif ini barangkali memang berguna, tetapi tugas seorang penelaah sastra sama sekali lain dengan pencipta sastra. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif dan hasilnya: karya seni. Sedang studi sastra adalah cabang ilmu pengetahuan. Seorang penelaah sastra harus bisa menelaah sastra dalam bahasa ilmiah, dengan uraian yang jelas dan rasional, meskipun bahan studinya
sedikit banyak mengandung unsur yang tidak rasional.
Sejumlah teoritikus menolak mentah-mentah bahwa telaah sastra adalah ilmu, karena sastra itu sendiri adalah karya seni (Wellek, 1989: 3). Mereka masih mengaburkan antara sastra dan telaah sastra. Telaah sastra dianggapnya juga sebagai bagian dari proses kreatif yang tak terpisahkan dan tak terbedakan dengan kegiatan sastra itu sendiri. Mereka belum sampai pada kesadaran bahwa telaah sastra bisa dilakukan secara ilmiah, rasional dan obyektif.

Sejumlah teoritikus menolak bahwa telaah sastra sebagai ilmu. Mereka mengusulkan telaah sastra sebagai “penciptaan kedua” . Seperti dilakukan oleh Walter Pater dan John Addington Symonds.
a. Walter Pater menterjemahkan lukisan Mona Lisa (Leonardo da Vinci) dalam bentuk tulisan.
b. John Addington Symonds mengulas karya sastra dengan gaya bahasa sastra yang berbunga-bunga.

Teoretikus lain juga mengambil kesimpulan yang sama skep¬tisnya. Menurut mereka, sastra tidak bisa ditelaah sama sekali. Sastra hanya untuk dibaca, dinikmati, dan diapresiasi. Selebihnya yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan berbagai macam informasi mengenai karya sastra. Justru sikap2 skeptis inilah yang menyebar dan berkembang ke masyarakat.

Masalahnya adalah bagaimana secara intelektual, mendekati seni, khususnya seni sastra. Bisakah itu dilakukan? Dan bagaimana bisa dilakukan? Salah satu jawaban adalah hal itu bisa dilakukan dengan metode2 yang dikembangkan oleh ilmu-ilmu alam, yang hanya perlu ditransfer ke dalam studi sastra. Beberapa transfer semacam itu bisa dibedakan (Terj. Prapta).
1. Salah satunya adalah mencoba menyamakan cita2 ideal dari ilmu pengetahuan umumnya mengenai objektivitas, impersonalitas (bersifat umum), dan kepastian.
2. Yang lain adalah mencoba meniru metode-metode ilmu alam melalui studi sebab-akibat dan studi sumber; ‘metode genetik’ ini pada prakteknya membenarkan penelusuran segala macam hubungan selama masih kronologis.

Diterapkan secara lebih ketat, kausalitas ilmu pengetahuan untuk menjelaskan fenomena sastra, dengan tugas menentukan sebab2nya pada bidang ekonomi, sosial, dan politik. Lagi, ada introduksi mengenai metode2 kuantitatif yang hampir digunakan dalam ilmu2 seperti statistik, peta, grafik. Dan akhirnya ada usaha menggunakan konsep biologis dalam menelusuri evolusi sastra. …
Hubungan sebab-akibat, kausalitas ilmiah digunakan untuk menjelaskan fenomena sastra: mengacu kondisi ekonomi, sosial, dan politik sebagai faktor-faktor penyebab.
Ada wilayah di mana dua metodologi (IPA & Pasti >< Ilmu Kemanusiaan/Humaniora) bertumpang tindih, yaitu dengan menggunakan metode dasar induksi, deduksi, analisis, sintesis dan perbandingan. Ada pemecahan lain yang muncul: studi sastra memiliki metode2 yang absah dan ilmiah, walau tidak selalu sama dengan metode ilmu pengetahuan alam. METODE ILMU ALAM SEJARAH 1. Ilmuwan melihat penyebab peristiwa (Dilthey) 1. Sejarawan mencoba memahami maknanya. Proses pemahaman: individual & subjektif. 2. Berlaku hukum yang umum (Wilhem Windelband) 2.Setiap fakta itu unik. Ilmu budaya melihat hal yang konkret dan invidual (Heinrich Rickert). 3. IPA pelajari fakta2 yang berulang (Xenopol) 3. Sejarah mengkaji fakta-fakta yang silih berganti. Ahli sastra mencari kekhususan, ciri2 khas dan kualitas tertentu. Singkatnya ada 2 jalan keluar ekstrem: 1. Mengikuti metode2 ilmiah dengan menyusun hukum-hukum umum. 2. Menekankan subjektivitas dan individualitas serta keunikan karya sastra. Jalan tengah: Setiap karya sastra pada dasarnya bersifat umum, sekalligus khusus; individual sekaligus umum. Kritik Sastra dan Sejarah Sastra mempelajari ciri khas sebuah karya sastra, sedangkan Teori Sastra berusaha menemukan hukum umum. Seperti setiap manusia – memiliki kesamaan dengan umat manusia pada umumnya, dengan sesama jenisnya, dengan bangsanya, dengan kelasnya, dengan rekan2 seprofesinya – setiap karya sastra memiliki sifat2 yang sama dengan karya seni lainnya, tetapi juga memiliki ciri2 khas. 1. SASTRA & STUDI SASTRA Teori Sastra berada dalam wilayah ilmu, tetapi yang menjadi objek dari Teori Sastra adalah sastra sebagai seni. 2. Sifat-sifat Sastra Menurut Wellek a. Tertulis atau tercetak. Salah satu batasan sastra, segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Oleh karena itu wilayah studi sastra segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah kebudayaan. Bahkan menurut teori Greenland, studi sastra identik dengan sejarah kebudayaan. Etimologi Sastra (Sastra dan ilmu Sastra, 1984. Teeuw, a, hlm. 22-24). BARAT H u r u f – l e t e r YUNANI LATIN PERANCIS INGGRIS JERMAN gramma littera lettre letter SASTRA – LITERATURE Grammatika Litteratura Litterature Literature Literatur T u l i s a n TIMUR SASTRA SANSKERTA INDONESIA JAWA (Kuno?) Sas-: mengarahkan, mengajar, mberi petunjuk; tra: alat untuk … Sastra: alat untuk mengajar; buku petunjuk. Kamasastra (buku petunjuk tentang seni cinta), silpasastra (buku arsistektur). Sastra: tulisan Sastra: tulisan b. Mahakarya BARAT TIMUR MAHAKARYA/MASTERPIECE: KARYA AGUNG > SASTRA YANG BAIK
Perancis Inggris Belanda Jawa (Kuno?)
belles-lettres:
sastra yang baik belles-lettres:
sastra yang baik Bellettrie:
sastra yang baik Susastra: sastra yang baik

Kriteria: segi estetis (indah) & nilai ilmiah (berbobot). Buku ilmiah Inggris yang dianggap layak: karya Thomas Huxley yang bersifat populer.

c. Karya Imajinatif, fiksi
Fiksi –
Imaginatif –
Apakah tokoh-tokoh yang kita jumpai di dalam sastra itu ada benar-benar? Sinchan, Manusia Kelelawar, Laba-laba, Doraemon, Harry Porter, Timun Emas, …..
Keunggulan akal budi manusia, bisa menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Bisa berimajinasi. Manusia mempunyai wilayah & perangkat CIPTA, RASA, KARSA; PIKIRAN, PERASAAN, KEHENDAK.
Wilayah CIPTA adalah wilayah kreativitas. Wilayah berpikir. Wilayah penjelajahan dan penajaman. Wilayah RASA, adalah wilayah afeksi & keseimbangan: kesantunan, bela-rasa, harmonisasi, .

d. Penggunaan bahasa yang khas
Perlu dibedakan bahasa sastra, bahasa sehari-hari, bahasa ilmiah

BAHASA ILMIAH BAHASA SASTRA
Pikiran Perasaan
Denotatif Konotatif, asosiatif
Simbol logika Ambigu, homonim
Lugas Ekspresif – sikap pembicara > pmbca

BAHASA SEHARI-HARI BAHASA SASTRA
Tidak Seragam: percakapan, perdagangan, keagamaan, bhs resmi, slank Lebih sistematis; ada kesatuan, kesengajaan
Fungsi Ekspresif
Penuh konsep irasional
Bertujuan mencapai sesuatu
Mempengaruhi sikap & tindakan
Perbedaan Pragmatik
Pengaruhi secara langsung Pengaruhi secara substil
Dalam dunia nyata Di luar dunia nyata
Aspek Referensial
Dunia realita Dunia imaginatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>