RAGAM BAHASA SASTRA

 

Penggunaan bahasa yang khas menurut Wellek: bahasa sastra, bahasa sehari-hari, bahasa ilmiah

BAHASA ILMIAH BAHASA SASTRA
Pikiran Perasaan
Denotatif Konotatif, asosiatif
Simbol logika Ambigu, homonim
Lugas Ekspresif – sikap pembicara > pmbca

BAHASA SEHARI-HARI BAHASA SASTRA
Tidak Seragam: percakapan, perdagangan, keagamaan, bhs resmi, slank Lebih sistematis; ada kesatuan, kesengajaan
Fungsi Ekspresif
Penuh konsep irasional
Bertujuan mencapai sesuatu
Mempengaruhi sikap & tindakan
Perbedaan Pragmatik
Pengaruhi secara langsung Pengaruhi secara substil
Dalam dunia nyata Di luar dunia nyata
Aspek Referensial
Dunia realita Dunia imaginatif

RAGAM BAHASA MENURUT SLAMET SOEWANDI
RAGAM ILMU RAGAM SASTRA RAGAM JURNALISTIK
Mengungkapkan hal-hal yang bersifat ilmiah: pengutaraan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Oleh karena itu sifat umum dari ragam ini adalah pemakaian unsur-unsur bahasa selengkap dan sebaku mungkin Mengungkapkan kehidupan manusia secara utuh: harapan, kerinduan, keinginan, kegembiraan, kebencian, kegalauan, pikiran, angan-angan, cita-cita, dan “realistis”, dengan cara yang estetis: menyentuh manusia. Mengungkapkan hal-hal yang dialami, diketahui dan dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat. Hal2 itu berupa fakta (berita), opini, pemberitahuan, dsb. Sifat umum dari ragam ini adalah penggunaan unsur-unsur bahasa seefektif-efektifnya mengingat keterbatasan ruang dan waktu.

RAGAM BAHASA MENURUT WIDHARYANTO
BAHASA AKADEMIK Dalam lingkungan akademisi, “manusia kampus perguruan tinggi”, untuk menimba ilmu, mengembangkan ilmu serta memanfaatkannya.
Ungkapan, cara penuturan yang tepat dan seksama, lugas, objektif, rasional dalam mengungkapkan kebenaran, memiliki daya abstraksi untuk konsep-konsep dan teori.
BAHASA BISNIS Oleh para usahawan untuk meyakinkan orang lain, konsumen, agar mereka tersugesti dan tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu, misalnya membeli produk yang ditawarkannya (bahasa hiperbola)
BAHASA SASTRA Menonjol dalam daya kejut, daya imajinasi pengarangnya. Lebih bersifat emosional, mengandung ambiguitas, simbolisme bunyi, efek estetis, bersifat konotatif.

BAHASA FILSAFAT Medium penyampai hasil renungan kontemplatif yang sulit dipahami oleh orang awam karena sifat abstraksinya sangat tinggi, bahkan melebihi abstraksi bahasa akademik
BAHASA BERITA Oleh para jurnalis untuk menyajikan informasi faktual harus bersifat aktual/hangat, dekat (proximity) dengan persoalan pembaca, penting, memiliki nilai dalam masyarakat. Bahasa berita sederhana, mudah dipahami, singkat, padat, tak bertele-tele, dan komunikatif.

Oleh Wellek, sastra dikatakan bersifat tertulis (menggunakan bahasa: tulis, lisan), mahakarya, imaginative atau konotatif, menggunakan bahasa yang khas.
Bahasa Sastra dibanding dengan bahasa ilmiah, bahasa sehari-hari, dan bahasa jurnalistik, memiliki kekhususan, yaitu afektif- emosional (menonjolkan unsur perasaan), estetis, ambigu, konotatif, simbolis, dan memiliki daya kejut. Bahasa sastra dikatakan sebagai bahasa bergaya.
Sastra sebagai seni memiliki sifat-sifat yang kreatif. Kreatif artinya mampu menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum ada menjadi ada. Orang yang kreatif harus selalu tidak puas dengan yang ada. Selalu mencari yang baru. Mencari sesuatu yang lain daripada yang sudah ada. Dia harus berani lain daripada yang lain. Kalau perlu Menyimpang dari yang sudah ada. Yang penting bagaimana dia bisa menciptakan suatu keindahan.
Puisinya Moh. Yamin merupakan contoh sebagai ekspresi perasaan kagum terhadap tanah air Indonesia. Di samping itu pada jamannya puisi Moh. Yamin ini merupakan sesuatu yang baru dibanding puisi umumnya (pantun, syair, gurindam, seloka, dsb)

Indonesia, Tumpah Darahku
(seorang mahasiswa/i diminta mendeklamasikan dan membayangkan dia duduk di pantai)

Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gemunung bagus rupanya
Dilingkari air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya

Lihatlah kelapa melambai-lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai-berai
Memagar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengejari bumi ayah dan ibu
Indonesia namanya, tanah airku

Bahasa Sastra juga merupakan bahasa bergaya, yaitu bahasa dengan maksud untuk menarik perhatian pembaca. Untuk menarik perhatian, bahasa sastra harus memiliki sesuatu yang menonjol. Usaha untuk menarik perhatian sering berupa sesuatu yang baru, menyimpang, lain daripada yang lain. Contoh puisi Chairil,

ISA

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar Tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
Aku berkaca dalam darah

Sutardji C. Bachri,

Tragedi Winka dan Sihka

Kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
sihka
sihka
sihka

Rendra
UNDANGAN

Dengan segala hormat
Kami harapkan kedatangan tuan nyonya dan nona
untuk menghadiri kami dikawinkan ….

Bahan roti dalam adonan
Tepung dan ragi disatukan
Pohonan bertunas dan berbuah
Benih tersebar dan berkembang biak
Di seluruh muka bumi.

Tempat:
Di gereja St. Yosef, Bintaran, Yogyakarta ….

Rumah Tuhan yang tua
Pangkuan yang aman Bapa Tercinta.
Segala kejadian
Mesti bermula di suatu tempat
Pohon yang kuat
Berakar di bumi keramat.

Waktu:
Selasa, tempat 31 Maret 1959
Jam 10 pagi, waktu di Jawa …..

Hari baru terbuka
Menyambung lingkaran waktu
Berputar tak bermula
Sejak cahaya yang pertama
……….

Dengan segala hormat
Kamu ucapkan terimakasih
Sebelum dan sesudahnya

Bahasa Sastra adalah Bahasa Bergaya. Ciri bahasa sastra dapat dilihat dari gaya bahasanya, yaitu penggunaan bahasa secara khusus yang menimbulkan efek tertentu, efek estetis. Menurut Slametmuljana (dan Simorangkir Simanjuntak, Tanpa tahun: 20) gaya bahasa (ekspresif) yaitu susunan perkataan yang terjadi karena perasaan2 dalam hati pengarang yang menimbulkan perasaan tertentu dalam hati pembaca. Menurut Gorys Keraf (1984: 113) bahwa gaya bahasa itu cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Menurut Kridalaksana (1983: 49-50) bahwa gaya bahasa adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, untuk memperolah efek2 tertentu.
Gaya bahasa juga digunakan dalam bahasa sehari-hari maupun bahasa ilmiah, tetapi gaya itu tidak disengaja untuk mendapatkan nilai estetis, di samping biasanya bersifat klise (kebiasaan) saja. Dalam bahasa sastra, gaya bahasa dieksploitasi secara sengaja dan sistematis, untuk mendapatkan efek estetis.
Bahasa sastra menekankan kreaitivitas dan keaslian. Itulah sebabnya pengarang selalu berusaha membentuk gaya bahasa asli dan baru.
Pada umumnya gaya bahasa merupakan defamiliarisasi atau diotomatisasi, yaitu penyimpangan dari bahasa normatif (menurut Skhlovsky dalam Hawkes, 1978: 62). Menurut Jakobson (1978:363), gaya bahasa merupakan harapan yang dikecewakan (frustrated expectation).

Contoh lain dari Iwan Simatupang (Ziarah) dan Danarto (Rintrik).
Diksi Danarto

“Dataran tandus dataran batu, tumbuh lurus tak kenal waktu.” (Armagedddon)
“Gagak-gagak hitam bertebahan dari angkasa, sebagai gumpalan-gumpalan batu yang dilemparkan, kemudian mereka berpusar-pusar, …”
“Matahari makin condong, bagai gumpalan emas raksasa yang bagus, membara menggantung di awang-awang…”
“Hujan deras membasahi angin dan angin menerbangkan hujan bagai anak panah salju dan hujan dan angin itu dibelah-belah petir dan ekor-ekor petir jadi melempem oleh suasana dingin yang beku bagai kerupuk dalam lemari es. “ (dari cerpen yang berjudul gambar hati tertusuk anak panah, dengan tokoh Rintrik).

Diksi Iwan Simatupang
“Juga pagi itu dia bangun dengan rasa hari itu dia bakal bertemu isterinya di salah satu tikungan, entah tikungan mana. Sedang isterinya telah mati entah berapa lama.”
“Geledek seolah menggegar dalam tubuh opseter kita. “
“Kemelut dalam dirinya memuncak. Nuraninya berbenturan dengan kesediaan dan kebukaan hati kawan barunya ….”
“…Tiap langkahnya adalah dia yang ziarah pada kemanusiaan.
Pada dirinya sendiri.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>