APA YANG DIMAKSUD DENGAN SASTRA TERLIBAT?

SASTRA MENURUT SARTRE

Seni lukis, seni pahat maupun musik tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Memang, jenis-jenis seni dalam suatu periode saling mempengaruhi satu sama lain dan dikondisikan oleh factor-faktor sosial yang sama. Ada yang menganggap bahwa ada kesejajaran di dalam macam-macam seni tsb.
Menurut Sartre, tidak ada paralelisme di dalam seni-seni itu. Bentuk dan bahannya (isinya) berbeda. Seni lukis dan seni musik di satu pihak, dan seni sastra di pihak lain. Nada, warna dan bentuk bukanlah suatu tanda. Hal-hal tersebut di atas tidak mengacu di luar mereka sendiri. Dalam lukisan, warna merah, hijau adalah hal/benda.
Mungkin seseorang memberi nilai tanda kepada benda-benda itu. Misalnya kita bicara mengenai bahasa bunga. Berdasarkan persetujuan, mawar putih bisa melambangkan ‘kesetiaan’. Namun begitu kita melihat mawar putih sebagai lambang kesetiaan, kita berhenti melihatnya sebagai bunga mawar. Perhatian kita sudah menerobos jauh di luar bunga mawar. Bagi seniman, warna dan buket bunga adalah sesuatu benda.
Pelukis tidak ingin melukis tanda di kanvas. Ia menciptakan sesuatu. Meskipun pelukis dalam menggunakan kombinasi warna-warna mungkin didasari alasan tertentu (mungkin tersembunyi), namun dia tidak pernah mengekspresikan kemarahannya lewat lukisannya. Tintoretto (pelukis) tidak memilih langit kuning di atas Golgotha untuk menandakan penderitaan maupun memprovokasikan-nya. Adalah derita dan langit kuning sekaligus yang hendak dinyatakan. Bukannya langit dari kemurungan maupun langit yang murung; di sini kemurungan menjadi benda (fisik), dan murung telah berubah menjadi langit kuning. Apabila pelukis menggambar sebuah rumah, ia mencipta sebuah rumah imaginer di kanvas; bukan tanda dari sebuah rumah.
Dalam sastra, penulis bukan hanya ingin menulis dengan gaya yang indah saja (l’art pour l’art); atau hanya sekedar ingin mengungkapkan isi hati (ekspresif); maupun tidak hendak mengambil model alam, maupun mencipta suatu dunia sendiri yang otonom (memetik, realisme, obyektif). Ia harus dilandasi keinginan mengirim pesan kepada pembaca. Seni prosa digunakan di dalam wacana. Substansinya bersifat signifikatif: kata-kata bukan obyek-obyek tetapi tanda dari obyek. Penulis prosa pada pokoknya membuat kata-kata menjadi berguna.
Penulis berurusan dengan makna. Prosa pada pokoknya utiliter/bermanfaat. Penulis prosa adalah manusia yang membuat kata-kata menjadi berguna. Penulis adalah pembicara; ia menandakan, mendemonstrasikan, memerintah, menolak, memohon, memarahi, melakukan persuasi, menyindir, dsb. Apabila ia melakukan demikian tanpa efek apapun, ia bukan penyair; penulis yang tidak berbicara apa-apa.
Ketika orang dalam bahaya maupun dalam kesulitan, ia menggapai instrumen: pukul maupun tongkat. Ketika bahaya berlalu, ia bahkan tidak ingat apakah yang dibawanya itu tongkat atau pukul. Yang penting, instrumen merupakan perpanjangan dari tubuhnya. Ia adalah jari keenam, kaki ketiga. Demikian pula, bahasa adalah rumah kerang dan antena kita. Ia melindungi kita dan menginformasikan kita mengenai sekeliling kita. Ia merupakan perpanjangan dari indera kita; mata ketiga yang bisa melihat hati orang lain. Kita berada dalam bahasa seperti berada dalam tubuh. Kita merasakannya secara spontan. Apabila prosa tidak mempunyai efek bagi orang lain, kita mempunyai hak untuk bertanya kepada penulis, ‘Apakah tujuan anda menulis? Apa yang anda lakukan untuk melibatkan diri? Apakah anda memiliki sesuatu untuk dikomunikasikan?’
Apabila anda mengatakan perilaku seseorang, anda menyingkapnya kepadanya; ia melihat diri sendiri. Ia menerima dimensi baru. Dengan berbicara, saya menyingkap keadaan dengan maksud untuk merubahnya. Saya menyingkapnya pada diri sendiri dan kepada orang lain untuk merubahnya.
Oleh karenanya kita bisa bertanya kepada penulis, ‘Aspek mana dari dunia yang hendak anda singkap? Perubahan apa yang hendak anda bawakan kepada dunia dengan penyingkapan ini?’ Bagi penulis yang terlibat, kata-kata adalah aksi. Menyingkap sama dengan merubah. Manusia adalah makluk terhadapnya makluk lain tidak bisa tidak terlibat. Bahkan juga Tuhan tidak. Karena Tuhan, apabila Ia ada, seperti telah dilihat kaum mistikus, akan berguna dalam hubungannya dengan manusia. Tuhan adalah juga keberadaan yang tidak bisa melihat suatu situasi tanpa merubahnya.
Kegunaan penulis adalah bertindak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun bisa tidak peduli akan dunia dan tak seorang pun bisa berkata bahwa ia inosen terhadap apa pun juga. Oleh karenanya, penulis harus berbicara mengenai sesuatu. Ia harus bermaksud mengirimkan pesan-pesan kepada pembaca. Penulis harus bertanggung jawab sepenuhnya dalam karyanya.
Penulis menyingkap dunia, terutama orang-orangnya, kepada orang lain (pembaca). Penulis prosa adalah orang yang memilih metode tertentu untuk tindakan penyingkapan. Ia tidak bisa lagi tidak memihak. Ia mau tidak mau harus memihak pada masyarakat dan kondisi manusia di sekitarnya. Di dalam karyanya penulis harus mengajak pembaca untuk terlibat/melibatkan diri sendiri secara penuh kepada dunia, lingkungannya.
Inilah tema sentral dari buku What is Literature? Penulis hendaknya mengajukan dalam setiap karyanya, suatu kebebasan konkret atas dasar situasi yang spesifik. Sastra, menurut dia, bisa merupakan sarana yang baik untuk membebaskan pembaca dari alienasi/keterasingan yang berkembang di dalam situasi tertentu. Lewat proses sastra penulis juga membebaskan dirinya sendiri dan mengatasi keterasingannya sendiri. Ia memperlihatkan bahwa sastra terasing ketika sastra melupakan dan tidak peduli akan otonominya dan tempatnya sendiri. Tugas penulislah menjauhkan manusia dari ketidakberdayaan, ketidaktahuan, prasangka dan emosi yang salah.
Kesimpulan: Konsep Sartre mengenai kebebasan ini secara logis menuntut perlunya komitmen penulis. Maka sastra yang baik adalah apa yang disebut ‘sastra terlibat’, litterature engagee. Sartre menyatakan bahwa penulis tak bisa tidak harus terlibat. Tidak bisa tidak, ia terlibat dalam jamannya sendiri. Sastra harus membantu pembaca untuk menjadi manusia yang penuh dan bebas di dalam dan melalui sejarah. Sastra seharusnya tidak bersifat membius melainkan harus membangkitkan manusia mengubah dunia dan dengan demikian mengubah diri sendiri. Ia menyebut sastra sebagai bentuk aksi penyingkapan. Sastra harus bersifat praksis: mengubah dan membebaskan pembaca, dunia, diri sendiri. Buku-buku bukannya kuburan sastra; Buku sastra tidak hanya untuk ditulis saja, melainkan terutama untuk dibaca. Pena harus bisa berfungsi sebagai pedang. Alat penulis mempengaruhi pembaca dan dunia.

MENGENAL KARYA SASTRA

Karya sastra merupakan suatu ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kehidupan, yang dapat membangkitkan pesona dengan alat bahasa dan dilukiskan dalam bentuk tulisan. Jakop Sumardjo dalam bukunya yang berjudul “Apresiasi Kesusastraan” mengatakan bahwa karya sastra adalah sebuah usaha merekam isi jiwa sastrawannya. Rekaman ini menggunakan alat bahasa. Sastra adalah bentuk rekaman dengan bahasa yang akan disampaikan kepada orang lain.
Pada dasarnya, karya sastra sangat bermanfaat bagi kehidupan, karena karya sastra dapat memberi kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup, walaupun dilukiskan dalam bentuk fiksi. Karya sastra dapat memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Hiburan ini adalah jenis hiburan intelektual dan spiritual. Karya sastra juga dapat dijadikan sebagai pengalaman untuk berkarya, karena siapa pun bisa menuangkan isi hati dan pikiran dalam sebuah tulisan yang bernilai seni.
Setelah mengetahui apa yang dimaksud dengan karya sastra, tidak ada salahnya jika kita melirik lebih mendalam tentang genre (jenis) karya sastra. Karya sastra dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yakni karya sastra imajinatif dan karya sastra nonimajinatif. Ciri karya sastra imajinatif adalah karya sastra tersebut lebih menonjolkan sifat khayali, menggunakan bahasa yang konotatif, dan memenuhi syarat-syarat estetika seni. Sedangkan ciri karya sastra nonimajinatif adalah karya sastra tersebut lebih banyak unsur faktualnya daripada khayalinya, cenderung menggunakan bahasa denotatif, dan tetap memenuhi syarat-syarat estetika seni.
Pembagian genre sastra imajinatif dapat dirangkumkan dalam bentuk puisi, fiksi atau prosa naratif, dan drama. Penjelasan tentang ketiga karya sastra ini akan kita kupas secara terperinci.
1. Puisi
Puisi adalah rangkaian kata yang sangat padu. Oleh karena itu, kejelasan sebuah puisi sangat bergantung pada ketepatan penggunaan kata serta kepaduan yang membentuknya.
2. Fiksi atau prosa naratif.
Fiksi atau prosa naratif adalah karangan yang bersifat menjelaskan secara terurai mengenai suatu masalah atau hal atau peristiwa dan lain-lain. Fiksi pada dasarnya terbagi menjadi novel, roman, dan cerita pendek.
Suroto dalam bukunya yang berjudul “Apresiasi Sastra Indonesia” menjelaskan secara terperinci tentang pengertian tiga genre yang termasuk dalam prosa naratif berikut ini.
 Novel
Novel ialah suatu karangan prosa yang bersifat cerita, yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh cerita). Dikatakan kejadian yang luar biasa karena dari kejadian ini lahir suatu konflik, suatu pertikaian, yang mengalihkan jurusan nasib para tokoh. Novel hanya menceritakan salah satu segi kehidupan sang tokoh yang benar-benar istimewa, yang mengakibatkan terjadinya perubahan nasib.
 Roman
Istilah roman berasal dari genre romance dari Abad Pertengahan, yang merupakan cerita panjang tentang kepahlawanan dan percintaan. Istilah roman berkembang di Jerman, Belanda, Perancis, dan bagian-bagian Eropa Daratan yang lain. Ada sedikit perbedaan antara roman dan novel, yakni bahwa bentuk novel lebih pendek dibanding dengan roman, tetapi ukuran luasnya unsur cerita hampir sama.
 Cerita pendek.
Cerita atau cerita pendek adalah suatu karangan prosa yang berisi cerita sebuah peristiwa kehidupan manusia — pelaku/tokoh dalam cerita tersebut. Dalam karangan tersebut terdapat pula peristiwa lain tetapi peristiwa tersebut tidak dikembangkan, sehingga kehadirannya hanya sekadar sebagai pendukung peristiwa pokok agar cerita tampak wajar. Ini berarti cerita hanya dikonsentrasikan pada suatu peristiwa yang menjadi pokok ceritanya.

3. Drama
Genre sastra imajinatif yang ketiga adalah drama. Drama adalah karya sastra yang mengungkapkan cerita melalui dialog-dialog para tokohnya. Drama sebagai karya sastra sebenarnya hanya bersifat sementara, sebab naskah drama ditulis sebagai dasar untuk dipentaskan. Dengan demikian, tujuan drama bukanlah untuk dibaca seperti orang membaca novel atau puisi. Drama yang sebenarnya adalah kalau naskah sastra tadi telah dipentaskan. Tetapi bagaimanapun, naskah tertulis drama selalu dimasukkan sebagai karya sastra.
Selanjutnya adalah pembagian genre sastra nonimajinatif, di mana kadar fakta dalam genre sastra ini agak menonjol. Sastrawan bekerja berdasarkan fakta atau kenyataan yang benar-benar ada dan terjadi sepanjang yang mampu diperolehnya. Penyajiannya dalam bentuk sastra disertai oleh daya imajinasinya, yang memang menjadi ciri khas karya sastra. Genre yang termasuk dalam karya sastra nonimajinatif, yaitu:
1. Esai
Esai adalah karangan pendek tentang sesuatu fakta yang dikupas menurut pandangan pribadi manusia. Dalam esai, baik pikiran maupun perasaan dan keseluruhan pribadi penulisnya tergambar dengan jelas, sebab esai merupakan ungkapan pribadi penulisnya terhadap sesuatu fakta.
2. Kritik
Kritik adalah analisis untuk menilai sesuatu karya seni, dalam hal ini karya sastra. Jadi, karya kritik sebenarnya termasuk argumentasi dengan faktanya sebuah karya sastra, sebab kritik berakhir dengan sebuah kesimpulan analisis. Tujuan kritik tidak hanya menunjukkan keunggulan, kelemahan, benar dan salahnya sebuah karya sastra dipandang dari sudut tertentu, tetapi tujuan akhirnya adalah mendorong sastrawan untuk mencapai penciptaan sastra setinggi mungkin, dan juga mendorong pembaca untuk mengapresiasi karya sastra secara lebih baik.
3. Biografi
Biografi atau riwayat hidup adalah cerita tentang hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain. Tugas penulis biografi adalah menghadirkan kembali jalan hidup seseorang berdasarkan sumber-sumber atau fakta-fakta yang dapat dikumpulkannya. Teknik penyusunan riwayat hidup itu biasanya kronologis yakni dimulai dari kelahirannya, masa kanak-kanak, masa muda, dewasa, dan akhir hayatnya. Sebuah karya biografi biasanya menyangkut kehidupan tokoh-tokoh penting dalam masyarakat atau tokoh-tokoh sejarah.
4. Autobiografi
Autobiografi adalah biografi yang ditulis oleh tokohnya sendiri, atau kadang-kadang ditulis oleh orang lain atas penuturan dan sepengetahuan tokohnya. Kelebihan autobiografi adalah bahwa peristiwa-peristiwa kecil yang tidak diketahui orang lain, karena tidak ada bukti yang dapat diungkapkan. Begitu pula sikap, pendapat, dan perasaan tokoh yang tak pernah diketahui orang lain dapat diungkapkan.
5. Sejarah
Sejarah adalah cerita tentang zaman lampau sesuatu masyarakat berdasarkan sumber-sumber tertulis maupun tidak tertulis. Meskipun karya sejarah berdasarkan fakta yang diperoleh dari beberapa sumber, namun penyajiannya tidak pernah lepas dari unsur khayali pengarangnya. Fakta sejarah biasanya terbatas dan tidak lengkap, sehingga untuk menggambarkan zaman lampau itu, pengarang perlu merekonstruksinya berdasarkan daya khayal atau imajinasinya, sehingga peristiwa itu menjadi lengkap dan terpahami.
6. Memoar
Memoar pada dasarnya adalah sebuah autobiografi, yakni riwayat yang ditulis oleh tokohnya sendiri. Bedanya, memoar terbatas pada sepenggal pengalaman tokohnya, misalnya peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh selama Perang Dunia II saja. Fakta dalam memoar itu unsur imajinasi penulisnya ikut berperanan.
7. Catatan Harian
Catatan harian adalah catatan seseorang tentang dirinya atau lingkungan hidupnya yang ditulis secara teratur. Catatan harian sering dinilai berkadar sastra karena ditulis secara jujur, spontan, sehingga menghasilkan ungkapan-ungkapan pribadi yang asli dan jernih, yakni salah satu kualitas yang dihargai dalam sastra.
8. Surat-Surat
Surat tokoh tertentu untuk orang-orang lain dapat dinilai sebagai karya sastra, karena kualitas yang sama seperti terdapat dalam catatan harian.
Genre sastra non imajinatif ini belum berkembang dengan baik, sehingga adanya genre tersebut kurang dikenal sebagai bagian dari sastra. Apa yang disebut karya sastra selama ini hanya menyangkut karya-karya imajinasi saja. Hal ini bisa kita lihat dari pemahaman masyarakat, khususnya pelajar tentang sastra.
Inilah tulisan singkat tentang sastra dan pembagiannya. Untuk memahami lebih jauh lagi, Anda dapat menggali lagi lebih lanjut dari berbagai sumber, baik itu buku, artikel, majalah, surat kabar, dan sebagainya.
Sumber yang dijadikan cerminan untuk tulisan ini:
Sumardjo, Jakob, dan Saini K.M. 1994. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Suroto. 1990. Apresiasi Sastra Indonesia untuk SMTA. Jakarta: Erlangga.

HUBUNGAN ANTARA FAKTA DAN FIKSI

Karya sastra atau fiksi terjadi karena manusia mengalami persentuhan dengan alam kehidupan. Dia mengalami pengalaman estetis. Dari pengalaman estetis itu manusia ingin mengabadikan pengalaman yang membahagiakan untuk diri sendiri dan juga untuk membagikan kepada orang lain. Dengan demikian ia menjadi lega, menjadi plong. Dia mengalami katharsis atau pengosongan. Pengungkapan pengalaman estetis itu bisa lewat lukisan di kanvas, lewat kata-kata yang intens (puisi) maupun pengungkapan yang bebas (cerita), lewat lagu, gerak (tari), maupun lewat bentuk (pahatan). Ia ingin menyajikannya secara gamblang atau mengolah-nya menjadi sesuatu yang tersamar.
Maka tidak mengherankan apabila dalam karya sastra ada keserupaan dengan dunia nyata. Perbedaan: sastra lebih leluasa. Hal yang tidak mungkin di dalam kehidupan nyata bisa dimungkinkan di dalam dunia fiksi. Unsur kemungkinan sastra lebih besar daripada dunia nyata yang terbatas. Unsur rekaan ini yang memungkinkan lebih leluasa.
Cerita ada yang dibuat berdasarkan fakta (mimesis). Tetapi ada unsur yang direka-reka (kreasi). Cerita Rekaan bisa diarahkan, dibentuk sesuai dengan kemauan pencerita. Bisa diberi tema ttt. Kadang lebih leluasa daripada cerita faktual. Cerita bisa mengenai hal yang aneh2, dunia ‘sana’, filsafat, psikologis, dsb.
Bedanya cerita dengan laporan. Dalam laporan yang penting adalah kesesuaiannya dengan data. Sedangkan dalam cerita yang penting adalah pesannya. Temanya.
Cerita rekaan biasanya berangkat dari kenyataan. Ada kenyataan yang hanya terbatas pada ukuran indera: kenyataan lahiriah. Ada kenyataan batin, yang di luar ukuran indera.
Pengarang dalam mengolah realitas pengalaman hidup menggunakan proses mencipta kembali lewat imaginasi dan renungannya. (Dari Mochtar Lubis hingga Mangunwijaya, Rahayu Priyatmi, 9:)
Kenyataan tsb diolah dengan renungan, imajinasi dan teknik. Hasil olahan menjadi ‘kenyataan baru’. Schorer menyatakan, bahwa berbicara tentang teknik dapat dikatakan berbicara tentang segalanya. Keberhasilan sebuah cerkan banyak bergantung pada bagaimana teknik menampilkan tokoh, alur, latar, pusat pengisahan dan bahasa.
Iwan Simatupang menyimpulkan bahwa karya seni yang berhasil adalah yang memberi sugesti tentang sekian dimensi lainnya yang masih tersembunyi yang merangsang pembaca untuk terus-menerus mencari dan menemukannya.

Ada berbagai cara manusia menuliskan pengalamannya sebagai karya sastra:
1. Menyuguhkannya secara langsung apa yang menjadi pengalamannya, sebagai penghidangan yang utuh (representasi) lewat pengalaman estetis (Film Tampomas, Zarima, Tsunami, Gempa Bumi di Jawa, Lumpur Sidoarjo).
2. Membuatnya tersamar, menghidangkannya sebagian (imitasi) (Marsinah).
3. Membuat tanggapan atas pengalamannya itu (reaksi) (Kasus 27 Mei).
4. Mengolah pengalaman itu di dalam perenungan yang dalam (re- fleksi).
Pada hakekatnya, karya2 sastra (lisan) selalu menghembuskan semangat jaman dan nafas lingkungan tempat tumbuh dan berkembangnya. Semangat jaman dan nafas lingkungan itu bisa sekedar hanya tersirat atau secara terbuka lagi jelas. Dengan demikian, ia bisa berbentuk penghidangan utuh (representasi), penghidangan sebagian/tersamar (imitasi) maupun tanggapan (reaksi). Sejumlah Masalah Sastra, Satyagraha Hoerip (ed.) hlm. 195: Karya Sastra sebagai suatu renungan, Umar Junus
Karya sastra merupakan suatu reaksi terhadap suatu keadaan atau peristiwa. Reaksi itu bisa berupa reaksi spontan atau reaksi yang direnungkan. Reaksi spontan biasa terjadi apabila penulisan itu lebih dekat dengan waktu peristiwa. Oleh karenanya lebih dipengaruhi oleh emosi. Maka lebih emosional, merupakan ungkapan mentah, berupa rasa marah, senang. Reaksi spontan biasanya kurang pengolahan, dan merupakan luapan yang kurang terkontrol. Sedangkan reaksi yang direnungkan biasanya diolah dan dipikirkan sehingga lebih matang. Biasanya renungan dibawa ke tahap pemikiran yang abstrak dan mengandung filsafat yang dalam.
Korupsi-nya Pramudya Ananta Toer, 1954 lebih merupakan reaksi spontan terhadap keadaan di Indonesia pada masa itu karena ia bereaksi terhadap gejala yang mulai berkembang ketika itu, yaitu korupsi. Dekat dengan peristiwa konkret. Dokter Zhivago-nya Boris Pasternak, lebih merupakan renungan kembali dari peristiwa yang terjadi pada revolusi Rusia. Ia melihat sisi negatif dari peristiwa tersebut, hal yang mustahil dilukiskan Pasternak kalau saja ia masih berada dalam suasana romantika revolusi itu.
Tak ada Hari Esok (1950) terkesan merupakan reaksi spontan. Tetapi Tanah Gersang (1964) maupun Maut dan Cinta (1977) sudah merupakan renungan.
Kering dinyatakan ditulis pada awal tahun 60-an, tapi mungkin sekali telah diolah kembali pada tahun ’68 atau sesudah ’68. Di sana disebut Sirhan, pembunuh Kennedy tahun 68. Tidak dapat dirasakan sebagai reaksi spontan terhadap keadaan.
Ketiga novel Iwan berhubungan dengan keadaan Indonesia. Merahnya Merah berhubungan dengan revolusi dan kehidupan orang yang keluar dari revolusi, serta kehidupan gelandangan. Ziarah berhubungan dengan kehidupan sosial-budaya-politik Indonesia yang dikuasai hal-hal irrasional. Kering berhubungan dengan keterikatan Indonsia kepada kondisi, terutama kondisi alam, dan bagaimana orang berhasil bila ia dapat memanipulasi kondisi itu.
Tetapi semua ini tak mungkin dengan cepat bisa kita temui pada novel-novel tsb. Karena ia tak mengucapkannya dalam pernyataan yang jelas. Ia terselubung dalam keseluruhan jalinan, sehingga tak tampak kalau tidak dianalisa lebih dulu secara dialektik. Tak ada hubungan langsung antara satu peristiwa dalam novel itu dengan satu peristiwa dalam kehidupan konkret.
Keadaan ini terjadi karena Iwan mengambil jarak dengan kenyataan yang dilukiskannya. Kenyataan bukan dilihatnya sebagai suatu fenomena an sich, tapi sebagai realisasi dari suatu konsep filsafat yang agak abstrak. Fenomena yang konkret diangkat ke tingkat yang abstrak, dinyatakan dalam sistem filosofi yang abstrak pula.
Secara filsafat Iwan melihat kehidupan sosio-budaya-politik Indonesia sebagai kehidupan yang dikuasai oleh pemikiran irrasional. Suasana irrasional ini memang menguasai setiap novel Iwan. Suasana irrasional, bukan unsur-unsur konkret, yang terdapat dalam novel-novel Iwan.
Iwan dalam menulis novelnya telah mengadakan jarak terhadap fakta konkret. 1) Ia telah mengadakan jarak waktu. Ia menunggu persoalan telah menjadi persoalan yang kompleks, bukan hanya merupakan permukaan sebagai novel Korupsi-nya Pramudya. 2) Ia juga mengadakan jarak emosional. Ia tidak merasa dirinya terlibat langsung dalam fakta yang disaksikannya. 3) Iwan melihat fenomena sebagai manifestasi suatu konsep yang bisa dihubungkan dengan suatu pemikiran filsafat. Fenomena konkret telah diabstrakkannya menjadi fenomena filsafat.
Hal-hal tsb membuat novel lebih terasa sebagai suatu renungan, bukan lagi reaksi spontan. Ini selanjutnya menyebabkan novel tsb tampak sebagai karya yang padat, padu dan menyeluruh, saling berintegrasi unsur-unsurnya. Dengan menggunakan istilah Goldmann novel itu memenuhi 2 syarat novel yang kuat, yaitu unity (kesatuan, kepadatan) serta kompleksity (keragaman).
Begitulah renungan sebagai pengadaan jarak telah memungkinkan karya ini menjadi karya yang berhasil. Karya yang lebih merupakan hasil renungan. Demikian pula Belenggu-nya Armijn Pane sebagai suatu karya sastra yang kuat, yang sulit tertandingi sebelum kedatangan novel-novel Iwan. Karya-karya yang tidak tenggelam pada ‘propaganda’ dan reaksi spontan yang menguasai novel-novel sebelum Perang Dunia II.

SENI MENURUT PLATO DUALISME PLATO DUALISME TENTANG DUNIA

 

A DUNIA IDE DUNIA JASMANI
Realitas yang sebenarnya Bukanlah realitas yang sebenarnya
Sempurna, abadi, langgeng, tetap, satu. Plural, banyak, tidak sempurna, berubah-ubah, fana
Model atau contoh – gambaran tak sempurna, meniru
- partisipasi
- hadir dan menjadi nyata dalam benda2 konkret
Menjadi sebab dari benda jasmani. Yang jasmani tergantung yang Idea.

DUALISME TENTANG MANUSIA

B JIWA BADAN/TUBUH
Abadi Fana
Prinsip yang menggerak badan
Mengenal Idea

TATARAN PROSES PENCIPTAAN
Dengan mengikuti pola pemikiran Plato, ada 3 tataran dalam proses penciptaan:
a. Tahap I: Tuhan mencipta, misalnya kursi azali. Kursi ini kursi sejati; tidak material atau mewujud dari suatu bahan tertentu, melainkan dalam wujudnya yang murni, yang disebut forma. Dunia ide adalah satu-satunya yang dikenal oleh akal budi.
b. Tahap II: Tukang kayu yang membuat kursi dari kayu menirukan model pertama tadi. Kursi yang dibuatnya adalah imitasi dari kursi azali yang berada dalam forma tadi. Peniruan ini menurut Plato hanya “menyerupai apa yang ada”, tetapi bukan “menjadi adanya sendiri”.
c. Tahap III: Seniman yang membuat lukisan kursi, bergerak lebih jauh lagi dari kenyataan. Seniman menghasilkan gambaran atau lukisan bukan mengenai kenyataan yang ada di dunia idea, melainkan keserupaan saja dari tiruan yang nyata. Dengan demikian Plato menganggap bahwa seni merupakan tindakan imitasi tahap kedua.

PANDANGAN PLATO MENGENAI REALITAS& SENI
Untuk menelusuri seni, kita harus tahu pandangan para ahli tentang seni. Pandangan seni mulai dibicarakan sejak berabad-abad sebelum Masehi. Salah satu pandangan yang sangat kuno dan terkenal adalah pandangan seorang filsuf Yunani bernama Plato. Seni, bagi Plato memiliki nilai sekunder, hanya meniru kenyataan yang ada di dunia ini. Kesenian hanyalah suatu imitasi dari kenyataan materiil. Padahal kenyataan materiil hanyalah tiruan dari dunia forma. Dunia kita ini hanyalah penampakan dari dunia abadi, dunia ide.
Wujud yang ideal tidak bisa terjelma langsung dalam karya seni. Namun seni tidak kehilangan nilainya sama sekali. Sebab walaupun seni terikat pada tataran yang lebih rendah dari kenyataan yang tampak, seni sungguh mencoba mengatasi kenyataan sehari-hari. Seni yang baik harus truthful, benar; dan seniman harus bersifat modest, rendah hati. Lewat seni dia hanya dapat mendekati yang ideal, dari jauh dan serba salah. Jadi, seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak, terletak di bawah kenyataan itu sendiri. Tetapi seni yang terbaik adalah lewat mimesis, peneladanan.
Untuk memahami pandangan Plato, mungkin perlu terlebih dahulu kita harus tahu latar belakang pemikirannya tentang realitas, tentang manusia. Plato memikirkan realitas dunia ini semu, sebab tidak sempurna. Semuanya hanyalah sementara saja. Kuncup bunga, mekar, layu, dibuang. Semuanya itu hanyalah gambaran dari yang sempurna. Yang sempurna letaknya bukan di dunia realitas, melainkan di dunia ide. Dunia ide adalah dunia kesempurnaan.

BAGAIMANAKAH SENI TERCIPTA?
MUSE, INSPIRASI SENI-nya Plato
Penyair – muse > “gila” (suci) > ekstase > kualitas seni sejati. Bdk dng “orang waras”. Muse: daya dorong buta; mata air membual; ilahi; ada pula inspirasi cinta, inspirasi kebenaran.
Hubungan muse dengan mimesis: jiwa meniru dunia ide yang pernah dipandangnya.
Dalam hubungannya dengan kepenyairan, Plato membicarakan juga tentang inspirasi seni, yang disebut muse. Dalam Ion dikatakan, bahwa penyair yang dihinggapi Muse menjadi gila, sehingga ia merasakan ekstase. Tetapi di sini gila bukan dalam arti penyakit jiwa. Bagi Plato ada kegilaan suci untuk mengejar kebenaran. Ia hanya mau menegaskan bahwa ekstase sangat perlu untuk mencapai kualitas seni sejati. “Apabila orang yang tanpa kegilaan ilahi memasuki pintu kepenyairan, meskipun mengandalkan ketrampilan, ia pasti akan gagal menjadi penyair. Sebab syair dari orang sehat akan kalah di hadapan syair orang gila yang memperoleh inspirasi.” Dalam Laws (hukum2) ia mengatakan: “….. apabila seorang penyair dikuasai oleh inspirasi (muse), dia tak lagi menguasai dirinya, melainkan menyerupai sebuah mata air yang membiarkan segala hal mengalir dari budinya.”
Dalam alam pikiran Yunani, inspirasi (Muse) adalah daya dorong yang buta yang menggerakkan penyair atau seniman untuk berkarya. Dalam kesadaran yang rasional, penyair malahan bisa kehilangan daya kreasinya. Maka dengan menyerahkan diri seluruhnya pada dorongan inspirasi, sang penyair sebetulnya kehilangan akal sehatnya karena ia memperlihatkan sesuatu hal yang tak terjangkau pikiran.
Dalam tradisi Yunani, dipercayai, bahwa inspirasi bersifat ilahi. Di lain pihak, seperti dalam Phaedrus, inspirasi seni hanyalah salah satu dari berbagai macam inspirasi. Di atas inspirasi seni masih ada inspirasi cinta akan keindahan abadi. Inilah inspirasi yang mendorong para filsuf untuk mencari kebenaran.
Muse (inspirasi seni) adalah sesuatu yang baik karena memberi dorongan untuk menghasilkan seni yang baik, menghindari penciptaan seni yang hanya berdasarkan keahlian tehnis.
Hubungan antara muse dengan mimesis. Jiwa tidak hanya baka (tak mati), tetapi juga kekal. Sebelum bersatu dengan badan, jiwa mengalami pra-eksistensi, memandang Idea-idea. Mengenal sesuatu berarti mengingat akan Idea-idea. Dalam keadaan kemasukan muse, jiwa penyair bersentuhan dengan dunia ilahi, dunia idea, dia mengingat akan idea-idea. Maka dalam keadaan kemasukan muse, penyair hanya bisa meneladan dunia idea. Meniru dunia Idea yang pernah dipandangnya.

Kreasio Aristoteles
Aristoteles, murid Plato menolak pandangan gurunya tentang filsafat Ide dan mimesis. Menurut Aristoteles, penyair tidak meniru kenyataan, tidak mementaskan manusia yang nyata atau peristiwa sebagaimana adanya. Seniman mencipta dunianya sendiri, dengan probabilitas yang tak-terelakkan. Menurut Aristoteles, seniman lebih tinggi nilai karyanya daripada seorang tukang. Karena di dalam mencipta itu seniman membuat dunia yang baru. Karya seni adalah sesuatu yang pada hakekatnya baru, asli, ciptaan dalam arti sesungguhnya. Teori ini selanjutnya lebih dikenal teori kreasio.

Dua pendekatan ekstrem mempengaruhi pandangan dan aliran sastra di Barat. Bergerak dinamis dari paham yang satu ke paham lainnya.
Seni yang meneladani alam: Barat, Timur (India, China, Jepang, Melayu, Jawa: Basuki Abdullah & Affandi). Abad Pertengahan: ut natura poesis (seni harus seperti [meneladani] alam). Di dunia Arab, Cina, Jawa ada unio mystica (manunggaling kawula-gusti lewat keindahan).

BERBAGAI PANDANGAN TENTANG SENI SETELAH PLATO & ARISTOTELES

NO WILAYAH PANDANGAN TENTANG SENI
Arab Penyair bukan pencipta dalam arti yang mutlak. Pencipta sejati: Tuhan.

Jawa Kuno Penyair sebagian besar mencari ilham dalam keindahan alam, dengan berkelana, lelangon, menelurusuri keindahan ini. Dalam puisi Jawa Kuno, puisi disamakan dengan unio mystica: Keindahan dianggap penjelmaan dari Yang Mutlak.
India Seni: meluapnya gairah kehidupan. Menurut kepercayaan Hindu, dunia merupakan manifestasi kehidupan Bhatara Siwa yang sedang menari, penuh gairah hidup dan rasa bahagia. Nampak dalam relief-relief candi-candi maupun seni lukis di Bali. Tak dibiarkan ada kekosongan dalam kanvas.
Cina Seni, sastra, harus meneladani tata semesta, kebenaran sejarah dan kebenaran kemanusiaan. Pelukis tidak dihanyutkan oleh hiruk pikuk keramaian dunia. Yang disasar oleh pelukis adalah untuk menangkap Ch’I, roh yang memberi kehidupan. Mengesampingkan keramaian dalam bentuk dan warna yang memabokkan. Seni Cina memberi tempat pada bidang yang kosong maupun waktu hening untuk kontemplasi.

Pandangan Plato tentang keindahan terdapat dalam buku Republic X, diturunkan dari pandangannya mengenai pengetahuan manusia.
ESTETIKA INDIA, CINA DAN JEPANG
Seni Zen Buddhisme (Koesbyanto, J.A. Dhanu, hlm. 65)
Koesbyanto, J.A. Dhanu, Firman Adi Yuwono. 1997.
Pencerahan, suatu Pencarian Makna Hidup dalam Zen Buddhisme. Yogyakarta: Kanisius. Seni merupakan luapan yang sangat natural, sangat dekat dengan alam, menggambarkan bentuk-bentuk dengan jelas dan hidup. Penggambaran alam dikenal sebagai suatu bentuk lukisan asimetris, atau disebut juga sbg gaya ‘satu-sudut’ (Suzuki, 1988: 26-27). Dalam seni Zen, kekosongan juga merupakan bagian dari seni (lukisan). Ungkapan salah satu master seni ‘sudut’ (Mayuan) adalah ‘painting by not painting’. Zen mengungkapkan ‘memainkan kecapi tak bersenar’. Perlu seni menyeimbangkan bentuk-bentuk terhadap ruang ‘kosong’.
“Ketidakseimbangan, ketidaksejajaran suatu ruangan, kemiskinan, sabi atau wabi, kepalsuan, kesunyian, merupakan ciri khas budaya dan seni Jepang (Suzuki, 1988: 27-28).
“Bentuk yang mudah dilihat, disentuh, dan dirasakan sebagai suatu hasil pengetahuan intuitif ditemukan dalam seni. Alasan mengapa seni mendapat tempat khusus untuk memahami ajarah Zen, karena karya seni dalam Zen merupakan wujud nyata yang bisa dirasa atau direfleksi. Ajaran tentang hidup dalam Zen ditemukan dalam seni. Suzuki menyatakan, Life is an art, yaitu hidup merupakan manifestasi kebebasan. Seperti burung-burung di awan dan ikan-ikan di air, itulah hidup. Bentuk kebebasan hidup tergambar dalam seni, yang tidak lain adalah kehidupan itu sendiri (Suzuki, 1969: 69).

SASTRA DAN STUDI SASTRA (Wellek & Warren)

 

Sastra: kegiatan kreatif; sebuah seni. Studi sastra: cabang ilmu pengetahuan.

Hubungan sastra dan studi sastra menimbulkan beberapa masalah rumit. Beberapa tawaran jalan keluar.
Pertama-tama harus dibedakan antara sastra dan studi sastra. Semula ada usaha mengaburkan perbedaan ini. Katanya, seorang penyair harus bisa menilai syair-syair yang baik maupun yang jelek. Sebaliknya seorang pemerhati drama, puisi haruslah seorang dramawan maupun penyair. Tidak mungkin kita mempelajari drama Inggris dari periode tsb, tanpa mencoba belajar mengarang drama dalam bentuk blank verse, ciri khas drama zaman Elizabeth di Inggris. Demikian pula, orang tidak bisa mempelajari pantun maupun syair tanpa terlebih dulu mencoba membuat bentuk puisi khas Melayu itu. Kita harus belajar membuat bentuk puisi tembang sebelum mencoba membicarakan jenis bentuk puisi Jawa tersebut.
Latihan kreatif ini barangkali memang berguna, tetapi tugas seorang penelaah sastra sama sekali lain dengan pencipta sastra. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif dan hasilnya: karya seni. Sedang studi sastra adalah cabang ilmu pengetahuan. Seorang penelaah sastra harus bisa menelaah sastra dalam bahasa ilmiah, dengan uraian yang jelas dan rasional, meskipun bahan studinya
sedikit banyak mengandung unsur yang tidak rasional.
Sejumlah teoritikus menolak mentah-mentah bahwa telaah sastra adalah ilmu, karena sastra itu sendiri adalah karya seni (Wellek, 1989: 3). Mereka masih mengaburkan antara sastra dan telaah sastra. Telaah sastra dianggapnya juga sebagai bagian dari proses kreatif yang tak terpisahkan dan tak terbedakan dengan kegiatan sastra itu sendiri. Mereka belum sampai pada kesadaran bahwa telaah sastra bisa dilakukan secara ilmiah, rasional dan obyektif.

Sejumlah teoritikus menolak bahwa telaah sastra sebagai ilmu. Mereka mengusulkan telaah sastra sebagai “penciptaan kedua” . Seperti dilakukan oleh Walter Pater dan John Addington Symonds.
a. Walter Pater menterjemahkan lukisan Mona Lisa (Leonardo da Vinci) dalam bentuk tulisan.
b. John Addington Symonds mengulas karya sastra dengan gaya bahasa sastra yang berbunga-bunga.

Teoretikus lain juga mengambil kesimpulan yang sama skep¬tisnya. Menurut mereka, sastra tidak bisa ditelaah sama sekali. Sastra hanya untuk dibaca, dinikmati, dan diapresiasi. Selebihnya yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan berbagai macam informasi mengenai karya sastra. Justru sikap2 skeptis inilah yang menyebar dan berkembang ke masyarakat.

Masalahnya adalah bagaimana secara intelektual, mendekati seni, khususnya seni sastra. Bisakah itu dilakukan? Dan bagaimana bisa dilakukan? Salah satu jawaban adalah hal itu bisa dilakukan dengan metode2 yang dikembangkan oleh ilmu-ilmu alam, yang hanya perlu ditransfer ke dalam studi sastra. Beberapa transfer semacam itu bisa dibedakan (Terj. Prapta).
1. Salah satunya adalah mencoba menyamakan cita2 ideal dari ilmu pengetahuan umumnya mengenai objektivitas, impersonalitas (bersifat umum), dan kepastian.
2. Yang lain adalah mencoba meniru metode-metode ilmu alam melalui studi sebab-akibat dan studi sumber; ‘metode genetik’ ini pada prakteknya membenarkan penelusuran segala macam hubungan selama masih kronologis.

Diterapkan secara lebih ketat, kausalitas ilmu pengetahuan untuk menjelaskan fenomena sastra, dengan tugas menentukan sebab2nya pada bidang ekonomi, sosial, dan politik. Lagi, ada introduksi mengenai metode2 kuantitatif yang hampir digunakan dalam ilmu2 seperti statistik, peta, grafik. Dan akhirnya ada usaha menggunakan konsep biologis dalam menelusuri evolusi sastra. …
Hubungan sebab-akibat, kausalitas ilmiah digunakan untuk menjelaskan fenomena sastra: mengacu kondisi ekonomi, sosial, dan politik sebagai faktor-faktor penyebab.
Ada wilayah di mana dua metodologi (IPA & Pasti >< Ilmu Kemanusiaan/Humaniora) bertumpang tindih, yaitu dengan menggunakan metode dasar induksi, deduksi, analisis, sintesis dan perbandingan. Ada pemecahan lain yang muncul: studi sastra memiliki metode2 yang absah dan ilmiah, walau tidak selalu sama dengan metode ilmu pengetahuan alam. METODE ILMU ALAM SEJARAH 1. Ilmuwan melihat penyebab peristiwa (Dilthey) 1. Sejarawan mencoba memahami maknanya. Proses pemahaman: individual & subjektif. 2. Berlaku hukum yang umum (Wilhem Windelband) 2.Setiap fakta itu unik. Ilmu budaya melihat hal yang konkret dan invidual (Heinrich Rickert). 3. IPA pelajari fakta2 yang berulang (Xenopol) 3. Sejarah mengkaji fakta-fakta yang silih berganti. Ahli sastra mencari kekhususan, ciri2 khas dan kualitas tertentu. Singkatnya ada 2 jalan keluar ekstrem: 1. Mengikuti metode2 ilmiah dengan menyusun hukum-hukum umum. 2. Menekankan subjektivitas dan individualitas serta keunikan karya sastra. Jalan tengah: Setiap karya sastra pada dasarnya bersifat umum, sekalligus khusus; individual sekaligus umum. Kritik Sastra dan Sejarah Sastra mempelajari ciri khas sebuah karya sastra, sedangkan Teori Sastra berusaha menemukan hukum umum. Seperti setiap manusia – memiliki kesamaan dengan umat manusia pada umumnya, dengan sesama jenisnya, dengan bangsanya, dengan kelasnya, dengan rekan2 seprofesinya – setiap karya sastra memiliki sifat2 yang sama dengan karya seni lainnya, tetapi juga memiliki ciri2 khas. 1. SASTRA & STUDI SASTRA Teori Sastra berada dalam wilayah ilmu, tetapi yang menjadi objek dari Teori Sastra adalah sastra sebagai seni. 2. Sifat-sifat Sastra Menurut Wellek a. Tertulis atau tercetak. Salah satu batasan sastra, segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Oleh karena itu wilayah studi sastra segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah kebudayaan. Bahkan menurut teori Greenland, studi sastra identik dengan sejarah kebudayaan. Etimologi Sastra (Sastra dan ilmu Sastra, 1984. Teeuw, a, hlm. 22-24). BARAT H u r u f – l e t e r YUNANI LATIN PERANCIS INGGRIS JERMAN gramma littera lettre letter SASTRA – LITERATURE Grammatika Litteratura Litterature Literature Literatur T u l i s a n TIMUR SASTRA SANSKERTA INDONESIA JAWA (Kuno?) Sas-: mengarahkan, mengajar, mberi petunjuk; tra: alat untuk … Sastra: alat untuk mengajar; buku petunjuk. Kamasastra (buku petunjuk tentang seni cinta), silpasastra (buku arsistektur). Sastra: tulisan Sastra: tulisan b. Mahakarya BARAT TIMUR MAHAKARYA/MASTERPIECE: KARYA AGUNG > SASTRA YANG BAIK
Perancis Inggris Belanda Jawa (Kuno?)
belles-lettres:
sastra yang baik belles-lettres:
sastra yang baik Bellettrie:
sastra yang baik Susastra: sastra yang baik

Kriteria: segi estetis (indah) & nilai ilmiah (berbobot). Buku ilmiah Inggris yang dianggap layak: karya Thomas Huxley yang bersifat populer.

c. Karya Imajinatif, fiksi
Fiksi –
Imaginatif –
Apakah tokoh-tokoh yang kita jumpai di dalam sastra itu ada benar-benar? Sinchan, Manusia Kelelawar, Laba-laba, Doraemon, Harry Porter, Timun Emas, …..
Keunggulan akal budi manusia, bisa menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Bisa berimajinasi. Manusia mempunyai wilayah & perangkat CIPTA, RASA, KARSA; PIKIRAN, PERASAAN, KEHENDAK.
Wilayah CIPTA adalah wilayah kreativitas. Wilayah berpikir. Wilayah penjelajahan dan penajaman. Wilayah RASA, adalah wilayah afeksi & keseimbangan: kesantunan, bela-rasa, harmonisasi, .

d. Penggunaan bahasa yang khas
Perlu dibedakan bahasa sastra, bahasa sehari-hari, bahasa ilmiah

BAHASA ILMIAH BAHASA SASTRA
Pikiran Perasaan
Denotatif Konotatif, asosiatif
Simbol logika Ambigu, homonim
Lugas Ekspresif – sikap pembicara > pmbca

BAHASA SEHARI-HARI BAHASA SASTRA
Tidak Seragam: percakapan, perdagangan, keagamaan, bhs resmi, slank Lebih sistematis; ada kesatuan, kesengajaan
Fungsi Ekspresif
Penuh konsep irasional
Bertujuan mencapai sesuatu
Mempengaruhi sikap & tindakan
Perbedaan Pragmatik
Pengaruhi secara langsung Pengaruhi secara substil
Dalam dunia nyata Di luar dunia nyata
Aspek Referensial
Dunia realita Dunia imaginatif

SASTRA DALAM HIDUP SEHARI-HARI

DALAM TRADISI MASYARAKAT, KETOPRAK, LENONG, SENDRATARI, DRAMA, LAGU-LAGU, FILM, SINETRON, TELENOVELA, DLL

Sejak kecil kita sebenarnya sudah akrab dengan sastra.
1. Ketika bayi, waktu mau tidur, dilagukan lagu Ninabubuk; ketika manangis, ditembahkan lagu Tak lela lela lela ledung; waktu masih balita, diajar nyanyi Keplok ame-ame, walang kupu-kupu. Ketika di TK, menyanyi Pelangi-pelangi, Bintang Kecil, Menanam Jagung, Satu-satu aku saying Ibu, Balonku Ada Lima. Lagu-lagu tanah air, perjuangan, kebangsaan lagu pop, bahkan lagu dangdut, dsb. Dongeng sebelum tidur:
2. Ketika kita masih kecil dulu, belum mau tidur kalau belum dikeloni dan diceritain tentang dongeng Timun Emas dengan Buto Ijo, tentang bagaimana Timun Emas dikejar-kejar Buto Ijo hendak dijadikan santapan/dikawini. Bagaimana Timun Emas itu lari dan bersembunyi; bagaimana Timun Emas itu akhirnya menyebarkan garam pemberian Nini Buto Ijo, menjadi danau embel atau danau lumpur, sehingga Buto Ijo terperosok ke dalam lumpur itu. Dengan demikian Timun Emas bisa lari meninggalkan Buto Ijo. Bawang Merah, Cindelaras, Kancil Nyolong Timun. Dongeng-dongeng itulah sastra.
3. Ketika seorang pawang, dukun, dalam acara bersih desa, kendurenan, berkisah tentang asal-usul desa tersebut, dia terlibat dalam sastra lisan, yaitu cerita, dongeng atau mitos. Dalam sastra tradisional, kita mengenal cerita asal-usul, cerita binatang, cerita jenaka, cerita pelipur lara, pantun.
4. Asal-usul Tangkuban Perahu; Rawa Pening; Banyuwangi; Ciamis; mengapa gadung beracun, harimau berbelang, ayam jago bertanduk. Gunung Tidar sebagai pathok tanah Jawa; orang Jepang percaya diri sebagai putra matahari; orang Jawa berasal dari dewa; raja2 Jawa sebagai titisan dewa; Suharto sebagai keturunan raja2 Jawa, dsb. Cerita asal-usul biasanya untuk mencari legitimasi bahwa suku, bangsa, atau keluarga, tokoh berasal dari keturunan raja atau dewa, bukan orang sembarangan atau keturunan pidak-pedarakan. Seperti Suharto, mengatakan bahwa dirinya itu masih keturunan raja2 Jawa (Majapahit-Mataram?).
5. Cerita binatang: Cerita Kancil paling populer. Tokoh binatang yang kecil tetapi cerdik. Bahkan bisa mengalahkan atau menipu binatang2 hutan yang lebih besar. Misalnya Kancil berlomba lari dengan Siput (keong). Kancil menjaga seruling, sabuk, gong, jenang nabi Sulaeman. Kancil menipu Gajah. Kancil kalah dengan orang-orangan Pak Tani, tapi bisa menipu Anjing. Binatang yang tak tahu balas budi: Buaya yang mau memakan Lembu yang baru saja menolongnya dari tindihan pohon. Cerita binatang berasal dari India, karena kepercayaan Hindu akan inkarnasi. Cerita binatang yang juga terkenal adalah Sukasaptati. Terjemahan versi Melayu bernama Bayan Budiman.
6. Cerita Jenaka: Cerita Pelipur Lara
7. Epos India: Ramayana dan Mahabharata.
8. Lagu-lagu yang saban hari kita dengar dan kita gemari, dari lagu pop, campur sari, hingga lagu dangdut, bukankah syair-syairnya berbentuk puisi? Hiburan-hiburan apa yang kita saksikan di televisi? Cerita apa saja yang saya senangi? Ketoprak Humor, Srimulat, Ludruk, pementasan Wayang Orang maupun Wayang Kulit, bukankah itu merupakan bentuk teater? Acara-acara film dari Shinchan, Doraemon, Scoobidoo, Sinetron Tersanjung, Maha Kasih, Mak Lampir, Dendam Nyi Pelet, hingga Telenovela, film-film Hindia, film silat Cina sampai film-film Hollywood, bukankah itu cerita fiksi yang diolah dari skenario yang bersifat sastra? Belum lagi cerita-cerita daerah, tulisan-tulisan di berbagai koran, majalah dalam bentuk Cerita pendek, Cerita bersambung, puisi, dsb.
9. Cerita kanak2 Harry Potter, cerita HC. Anderson, Bayan Budiman. Dalam acara tivi: cerita horor, ketoprak humor, kartoon, film cerita silat, India, Mahabharata, detektif, spionase, cerita kartoon dari Jepang, dsb. Pengalaman pribadi: buat cerita (memetik bulan dan matahari), cerpen “Sepotong Senja untuk Sang Pacar”, cerber. Cerita lucu2.
10. Dalam seni gerak (Tari) pun biasanya terselip (cerita) sastra secara implisit (Ramayana, Tari Merak, dsb). Demikian pula dalam lukisan2-pun terdapat cerita sastra secara implisit. Ada cerita yang melatar-belakanginya. Drama, cerita film: merupakan cerita dalam gerak dan kata.
11. Tradisi lisan dan tradisi tulis dalam masyarakat dulu. Tradisi lisan dan tradisi tulis dalam masyarakat kita sekarang. Suka ngobrol, ngegosip, bikin isu, provokator, tidak suka baca, tidak suka ke perpust. Kita sebagai mahasiswa berada dalam transisi, menuju ke tradisi tulis sebagai calon cendekiawan, biasakan ke perpust.
12. Bisa dikatakan setiap saat kita sebenarnya bertemu dengan sastra.
13. Tapi jangan kebablasan, euforia (latah). Mentang mahasiswa lalu nulis di meja2 kuliah, tembok, tempat2 umum, WC, dsb.

SASTRA BAGIAN DARI SENI

Sastra merupakan sebuah seni. Seni mau tak mau berkaitan dengan keindahan. Oleh karena itu dalam berbicara mengenai seni sastra kita harus juga berbicara mengenai keindahan. Perihal keindahan dibicarakan di dalam ilmu yang namanya estetika. Maka mengenai keindahan itu kita ambil batasan keindahan dari ilmu estetika.
Keindahan dalam kehidupan sehari-hari: rumah, kamar, pakaian (mode), kendaraan (motor, mobil, pesawat), rumah ibadat (candi, klenteng, gereja, mesjid), menu makanan, dll. Mengapa? Membuat hidup ini lebih menyenangkan, menyegarkan. Tidak menjenuhkan.

APA ITU SENI?
Diskusi tentang pengalaman akan keindahan
a. Dalam kesempatan apa saja, kapan, di mana keindahan digunakan oleh manusia (Keindahan dalam kehidupan sehari-hari: rumah, kamar, pakaian (mode), kendaraan (motor, mobil, pesawat), rumah ibadat (candi, klenteng, gereja, mesjid), menu makanan, dll.
b. Kapan aku mengalami keindahan? (melihat keindahan alam: di gunung, pantai, lukisan, saat liburan, saat mendengarkan koor di gereja, nonton film, konser, drama, membaca karya sastra).
c. Apa yang aku alami/rasakan ketika berhadapan dengan keindahan. Lalu apa yang aku lakukan ketika aku mengalami keindahan? (Senang, kagum, bahagia, merasakan kepuasan batin, memaknai semua yang kulihat, kusentuh, kudengar, tidak hanya lewat pikiran, tetapi lewat hati, bersyukur, diam)
d. Pernahkah aku tersentuh oleh sebuah karya sastra? Jawablah secara konkret pengalamanku menikmati s karya sastra (membaca novel yang bagus, pementasan drama, sendratari, film, puisi, musikalisasi puisi, dsb).
e. Menurut Saudara, apa itu seni? (Mencari di perpustakaan: kamus, ensiklopedi, buku).

Apa itu seni? Apa itu keindahan? Apa bedanya antara seni dan keindahan?
SENI, menurut kamus Webster, th.
1. Disposisi (pengaturan) maupun modifikasi sesuatu berkat ketrampilan manusia, sesuai dengan yang dimaksud. Dalam arti ini, seni dipertentangkan dengan alam.
2. Karya kreatif yang memiliki bentuk & keindahan: seni lukis, patung, arsitektur, musik, sastra, drama, tari, dsb. Istilah fine art biasanya digunakan secara terbatas: seni grafis, gambar, lukis, patung, keramik, dan arsitektur.
3. Istilah seni digunakan dalam cabang ttt seperti sastra, musik. Dalam arti ini, seni (art) dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan (science).

RANGKUMAN

Seni: Karya Kreatif Yang Dihasilkan Oleh Bakat & Ketrampilan Manusia, Yang Memiliki Bentuk & Keindahan: Seni Lukis, Patung, arsitektur, musik, sastra, drama, tari, dsb.

Apa itu keindahan?
1. Suatu anugerah khusus, sifat, perhiasan maupun sesuatu yang luar biasa; sesuatu yang indah, misalnya alam yang indah.
2. Bakat khusus maupun kepemilikan khusus yang menyenangkan mata, telinga, intelek, fakultas estetis , maupun indera (sense) moral.
3. Orang tampan, misalnya wanita cantik.
Kamus
1. Suatu kualitas yang memberi kesenangan pada indera.
2. Wanita yang tampak sangat menawan dan menggoda.

Kesimpulan
Keindahan: anugerah maupun sifat khusus yang luar biasa, yang memberi kesenangan pada indera, intelek & batin manusia.

Keindahan indera meliputi aspek yang berkaitan dengan penglihatan (alam, lukisan, manusia; warna, bentuk bundar, lonjong), pendengaran (alam, musik), perabaan (halus, lembut), pencecapan (enak, lezat), penciuman (wangi, harum, sedap).
Keindahan batin: cinta, baik, …

Beda Seni dan keindahan? Keindahan lebih dimiliki oleh alam? Bersifat alami, sedang seni sudah merupakan campur tangan dari kreativitas & rekayasa manusia?

Batasan estetika cukup beraneka ragam. Hal-hal yang biasanya dibicarakan dalam estetika (hlm. 21).
1. Keindahan
2. Keindahan dalam alam dan seni
3. Keindahan khusus pada seni
4. Keindahan dan Seni
5. Seni (segi penciptaan dan kritik seni serta hubungan dan peranan seni)
6. Citarasa
7. Ukuran nilai baku
8. Keindahan dan kejelekan
9. Nilai non-moral (nilai estetis)
10. Benda estetis
11. Pengalaman estetis.

Jack Marritain
Proses penghayatan estetis bersumber pada persepsi alamiah-faktual lewat daya2 indera. Ketika kita di sore hari …. Atau di puncak gunung menyaksikan fajar menyibak di ufuk Timur. Dalam suasana hening, kita merasakan keindahan yang memukau.

Berhadapan dng keindahan:
a. Terpesona; rasakan keindahan memukau; kenikmatan rohani; larut dalam kontemplasi; mengagumi keindahan alam; terbawa kekuatan alam. Hilang kesadaran.
b. Merasa diri kecil, tersedot oleh kekuatan alam. Lenyap perbedaan antara Subjek dengan Objek. Lebur antara dunia besar (makro kosmos, alam) dengan dunia kecil (mikro kosmos, aku). Aku terangkat ke dalam sesuatu yang agung. Berbagai daya kekuatan dalam diriku melebur, menyatu sempurna sbg manusia.
c. Orang tsb ingin sekali mengabadikan pengalaman tsb. Kemudian ia ingin mengungkapkan pengalaman yang mencengkam itu lewat kanvas, tarian, lagu, bahasa. Lahirlah karya itu. Bila pengungkapan itu tercapai, hilanglah perasaan tercengkam/tertekan itu. Dia lega dan puas, berhasil membebaskan ketercekaman yang menindihnya. Maka lahirnya hasil sastra itu merupakan katharsis bagi pengarang.

Dalam pengalaman estetis, lenyaplah perbedaan antara subyek (aku yang mengamati alam) dan obyek (alam). Aku seolah meluluh dengan alam sekitar, aku merasa terangkat dalam sesuatu yang lebih besar dan agung daripada aku. Sekaligus lenyaplah (untuk sementara) perbedaan antara berbagai daya kekuatan dalam diriku sendiri, misalnya perbedaan antara jiwa dan tubuh, perbedaan antara akal budi, kemauan, emosi dan lain2. Tercapailah dalam diriku suatu keseimbangan, suatu peleburan dan keutuhan sempurna sebagai manusia.
Terjadi semacam interpenetrasi (saling menerobos) antara alam dan manusia. Kedua belah pihak saling meluluh tanpa kehilangan identitasnya masing2. Manusia yang merasakan getaran keindahan alam mengadakan semacam identifikasi spiritual dengan alam itu, bahkan alam memasuki kalbunya. Sebaliknya manusia memasuki alam (Maritain). Para ahli menganalisa pengalaman tentang keindahan timbul dari perjumpaan dengan alam.
PENGALAMAN ESTETIS (Barat)
Proses penghayatan pengarang berpangkal dari pengalaman yang bersumber pada persepsi alamiah-faktual lewat daya2 indera. Ketika kita di sore hari entah di sebuah desa maupun di pantai, menghadap ke barat, kita terpesona oleh keindahan bola mentari yang mau tenggelam. Atau di puncak gunung menyaksikan fajar menyibak di ufuk Timur. Dalam suasana hening, kita merasakan keindahan yang memukau. Dalam sekejap kita akan merasakan kenikmatan rohani. Kita akan larut dalam kontemplasi sejenak, mengagumi keindahan alam. Terdiam. Orang merasa terbawa oleh kekuatan alam. Orang merasa lebur dalam alam. Merasa diri kecil. Kesadaran seolah terhisap oleh sebuah kekuatan.
Keadaan tsb berlangsung dalam sesaat. Beberapa detik, atau menit. Orang tsb ingin sekali mengabadikan pengalaman tsb. Kemudian ia ingin mengungkapkan pengalaman yang mencengkam itu lewat kanvas, tarian, lagu, bahasa. Lahirlah karya itu. Bila pengungkapan itu tercapai, hilanglah perasaan tercengkam/tertekan itu. Dia lega dan puas, berhasil membebaskan ketercekaman yang menindihnya. Maka lahirnya hasil sastra itu merupakan katarsis bagi pengarang. Itulah proses penciptaan karya sastra: penghayatan poetik. (Bandingkan dengan “pengalaman estetik” dari Dick Hartoko).
Lenyaplah perbedaan antara subyek (aku yang mengamati alam) dan obyek (alam). Aku seolah meluluh dengan alam sekitar, aku merasa terangkat dalam sesuatu yang lebih besar dan agung daripada aku.
Sekaligus lenyaplah (untuk sementara) perbedaan antara berbagai daya kekuatan dalam diriku sendiri, seperti misalnya perbedaan antara jiwa dan tubuh, perbedaan antara akal budi, kemauan, emosi dan lain2. Tercapailah dalam diriku suatu keseimbangan, suatu peleburan dan keutuhan sempurna sebagai manusia. Terjadi semacam interpenetrasi (saling menerobos) antara alam dan manusia. Kedua belah pihak saling meluluh tanpa kehilangan identitasnya masing2. Manusia yang merasakan getaran keindahan alam mengadakan semacam identifikasi spiritual dengan alam itu, bahkan alam memasuki kalbunya. Sebaliknya manusia memasuki alam (Maritain).
Para ahli menganalisa pengalaman tentang keindahan timbul dari perjumpaan dengan alam.
Monroe C. Beardsley mengungkapkan bahwa pengalaman estetis menentramkan dan menggembirakan manusia.
Plotinos mendekatkan pengalaman estetis dengan pengalaman religius, bahkan puncak perkembangan estetis itu sendiri adalah pengalaman religius yang disebut pengalaman mistik.
Cuplikan sepenggal kisah Affandi melukis di pantai Bali untuk beri contoh inspirasi seni dan pengalaman estetis; atau hubungan antara alam dengan seni.

Edgard Allan Poe mengatakan, sastra berfungsi sekaligus mengajarkan sesuatu. Horatius menyatakan bahwa puisi itu indah dan berguna, dulce et utile. Seni yang mampu mengartikulasikan perenungan itu memberikan rasa senang. Pengalaman mengikuti artikulasi itu memberikan rasa lega. Kedua segi itu bukan hanya harus ada, melainkan harus saling mengisi. Kesenangan yang diperoleh dari seni bukan hanya kesenangan fisik, melainkan kesenangan yang lebih tinggi, yaitu kontemplasi yang tidak mencari keuntungan. Akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk membuktikan bahwa manfaat sastra terletak pada segi pengetahuan yang disampaikannya. Sekarang hendak dibuktikan bahwa sastra memberikan pengetahuan dan filsafat. Salah satu nilai kognitif drama dan novel adalah segi psikologisnya. “Novelist dapat mengajarkan lebih banyak tentang sifat-sifat manusia daripada psikolog. Karen Horney menunjuk Dostoyevsk, Shakespeare, Ibsen, dan Balzac sebagai sumber studi psikologi. E.M. Forster dalam Aspect of the novel mengatakan, novel sangat berjasa mengungkapkan kehidupan batin tokoh-tokohnya. Novel-novel besar barangkali bisa menjadi buku sumber bagi para psikolog (Oediphus complex).
Fungsi sastra, menurut sejumlah teoritikus, adalah untuk membebaskan pembaca maupun penulisnya dari tekanan emosi. Mengekspresikan emosi berarti melepaskan diri dari emosi itu. Goethe konon terbebas dari Weltschmerz dengan menciptakan karyanya, The Sorrows of Werther. Seorang pembaca novel maupun penonton drama-tragedi juga mengalami perasaan lega. Apakah sejumlah karya sastra membangkitkan emosi?

SENI (Ernst Cassirer)
Bahasa dan seni terus menerus bergerak di antara 2 kutub yang bertentangan, yaitu kutub objektif dan kutub subjektif. Fungsi utama keduanya adalah fungsi mimetis. Bahasa dikatakan imitasi bunyi-bunyi, sedang seni adalah imitasi benda-benda lahiriah. Imitasi merupakan naluri fundamental. Kata Aristoteles, “Imitasi merupakan hal yang wajar bagi manusia sejak kanak-kanak. Manusia ialah binatang paling suka meniru dibanding binatang lain. Manusia belajar lewat cara meniru.”
Musik pun merupakan gambaran dari benda-benda. Permainan seruling, tari-tarian tak lain adalah peniruan. Pemain seruling dan penari, melalui irama-irama, lagu, gerak menirukan apa yang dilakukan dan dialami manusia. Tindakan dan watak manusia. Horatius mengatakan, “Ut pictura poesis” (puisi bagaikan lukisan). Simonides berkata, “lukisan adalah puisi diam, dan puisi adalah lukisan kata-kata. Puisi dan lukisan berbeda hanya dalam cara dan sarananya, bukan karena fungsi utamanya.
Namun teori-teori imitasi tidak membatasi karya seni hanya pada reproduksi realitas secara mekanis saja. Terbuka bagi kreativitas dan spontanitas seniman. Aristoteles mengatakan, bahwa kemustahilan yang menyakinkan lebih disukai daripada ketidakmustahilan yang tidak menyakinkan.
Para Neoklasik pada abad XVI hingga Abbe Batteux berpendapat, bahwa seni tidak mereproduksi alam secara umum tanpa pilih-pilih, melainkan hanya alam yang molek saja (la belle nature).
Teori imitasi ini bisa bertahan hingga paruh pertama abad XVI. Rousseau menolak teori klasik maupun neoklasik. Menurutnya, seni bukanlah deskripsi maupun reproduksi dunia empiris, melainkan luapan emosi perasaan (Nouvelle Heloise). Di Jerman, paham Rousseau ini diikuti oleh Herder dan Goethe. Sejak itu teori keindahan memperoleh bentuk baru. Menurut Goethe, seni kreatif lahir, karena manusia tergoda untuk memperindah dunia sekitar. Maka seni karakteristik (unik, individual, “muncul dari dalam”, orisinal, mandiri) merupakan seni sejati.
Seni karakteristik atau seni ekspresif merupakan “luapan spontan daya-daya perasaan”. Seni bersifat reproduktif, meskipun bukan reproduksi benda-benda atau objek fisik, melainkan reproduksi hidup batiniah, afeksi-afeksi dan emosi-emosi.

Art Meaning and Definition – internet
1. Kemahiran; ketrampilan; keahlian
2. Penerapan ketrampilan menghasilkan sesuatu yang indah dengan tiruan maupun rancangan, misalnya seperti lukisan, pahatan.
3. Hasil dari kreativitas manusia; karya seni secara kolektif.
4. Kreasi dari hal-hal yang penting dan indah.
5. Ketrampilan khusus yang bisa dipelajari dengan studi dan latihan maupun pengamatan.

KEDUDUKAN SENI (Rendra)
Manusia terdiri dari unsur Rohani dan Jasmani. Manusia mempunyai kebutuhan yang sifatnya jasmani dan rohani. Pertanian, perdagangan, keamanan, teknologi, kesehatan dan industri adalah bidang yang berkaitan dengan jasmani. Percintaan, persahabatan, penghayatan agama/iman, ibadah, kesenian adalah bidang rohani. Pendidikan sebagian bersifat jasmani, yaitu pengajarannya, sedang penanaman nilai bersifat rohani. Bidang2 jasmani memerlukan efisiensi. Di dalam hidup ada hal2 yang tidak praktis dan tidak efisien, tetapi sangat diperlukan, misalnya bercinta, berrumah tangga, bersahabat, upacara keagamaan, ibadah, dsb.
Aneh menuntut percintaan dengan kekasih atau bercengkarama dengan putra-putri secara praktis dan efisien. Demikian pula dalam persahabatan, peribadatan, doa, dsb.
Unsur Rohani dan Jasmani sama pentingnya. Tanpa roh, manusia menjadi robot, tanpa jasmani manusia menjadi hantu. Kesenian adalah urusan roh. Keduanya tidak praktis dan tidak efisien. Manusia tidak akan mati tanpa seni, dan kesehatannya baik2 saja. Tetapi tanpa seni dan sastra, masyarakat akan miskin rohaninya. Dalam kehidupan suatu bangsa, prestise yang dihasilkan oleh penyair dan sastrawan sering lebih panjang umurnya dibandingkan prestise sosial, politik, dan ekonomi. Kekayaan sosial, politik, ekonomi Yunani purba, Prusia, Singasari dan Majapahit sudah lama dilupakan orang, tetapi kejayaan seni, filsafat dan sastra masih bisa dirasakan sampai detik ini: Plato, Sophocles, Heinrich Heine, Empu Sedah, dan Empu Prapanca, Shakespeare, Ronggowarsito, Raden Saleh.
Dalam masyarakat primitif, menurut Eliade, mitos2 tidak hanya penting, melainkan sangat menentukan manusia purba. Demikian pula puisi dan drama mendapat tempat istimewa. Puisi dan drama muncul sebagai keperluan upacara2 penting dalam hidup manusia, misalnya upacara kelahiran, turun-tanah, khitanan, tunangan, menikah, kematian, menanam, menuai, mendirikan rumah, masuk rumah, pindah rumah, dsb.
Para penyair dan dramawan sangat fungsional dalam masyarakat. Mereka punya kedudukan sebagai saman atau pawang. Demikian pula tukang cerita, tukang kentrung dalam masyarakat kita.
Dalam masyarakat sekarang, kebutuhan roh akan agama, kesenian dan filsafat disederhanakan menjadi kebutuhan akan hiburan. Dalam alam industri dan teknologi modern, kesenian beralih-fungsi menjadi hiburan untuk komersial: night club, bar, diskotik dan klub karaoke.
Apakah roh telah mati? Apakah roh bisa sirna hanya karena industri dan teknologi? Ternyata tidak! Agama tidak bisa dihilangkan dari satu bangsa, begitu pula kesenian dan filsafat. Selalu saja muncul seniman2 yang bertahan menderita dan kesepian, akhirnya menjelma menjadi raksasa tanpa mengkompromikan seninya menjadi hiburan. Kesenian yang unggul tetap muncul dan dihargai. Berapa banyak hadiah seni bergengsi diberikan kepada tokoh seni. Agama, filsafat berkembang di mana2. …
KEINDAHAN: PANDANGAN ROMANTIK
Menurut Ernest Cassirer, keindahan tak pernah selesai diperdebatkan. Penyair Romantik, John Keats (1750 – 1821), dalam Endymion (1817), mengatakan, A thing of beauty is a joy forever: Its loveliness increases; it will never pass into nothingness.
Sesuatu yang indah adalah kegembiraan, kesukaan, kebahagiaan selama-lamanya. Kemolekannya bertambah, dan tak pernah berlalu ke ketiadaan. Konsep keindahan baru dapat berkomunikasi dengan penciptanya sendiri setelah ada bentuk yang diberikan oleh imaginasi. Apa yang ditangkap oleh imaginasi sebagai keindahan adalah kebenaran.
Keats mengatakan, sesuatu yang indah memberi perasaan suka cita yang dalam, dan daya tariknya selalu bertambah. Dengan demikian, sesuatu yang indah adalah abadi. Karya Dante (126-1321), Beethoven (1770 – 1827), Michaelangelo (1745-1864), Basuki Abdullah, Affandi, yang tidak pernah dilupakan orang adalah indah, dan karena itu abadi. Dari jaman ke jaman orang selalu menikmatinya, dan setiapkali orang menikmatinya, daya tarik karya selalu bertambah. Lukisan “Monalisa” sampai sekarang menjadi legenda yang tak pernah padam. Bahkan sampai dilagukan.

Dalam sikap estetis, digunakan istilah-istilah detachment (tak terpengaruh), disinterested (tanpa pamrih), impartially (netral, tak memihak), aesthetic distance (Mudji Sutrisno, 1993: 16). Keindahan dalam arti terluas merupakan pengertian semula dari bangsa Yunani dulu yang di dalamnya tercakup pula ide kebaikan. Plato misalnya menyebut tentang watak yang indah dan hukum yang indah.
Menurut Plato, yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana. Kesederhanaan sebagai ciri khas dari keindahan, baik dalam alam maupun dalam karya seni. Di samping itu kepaduan juga merupakan ciri keindahan. Yang paling indah adalah idea. Karya seni bagi Plato merupakan tiruan dari tiruan, yang jauh dari kebenaran sejati.
Sedang Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan. Menurut Aristoteles, keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran material. Katharsis adalah puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi. Menurut Aristoteles, segala peristiwa, pertemuan, wawancara, permenungan, keberhasilan, kegagalan dan kekecewaan, harus disusun dan dipentaskan sedemikian rupa sehingga pada suatu saat secara serentak semuanya tampak “logis” tetapi juga seolah-olah “tak terduga”. Katharsis sebagai pembebasan batin dari segala pengalaman penderitaan. Memiliki makna terapeutis dari segi kejiwaan. Ada unsur perubahan sikap batin menuju ke kebaikan.
Plotinos menulis tentang ilmu yang indah dan kebajikan yang indah. Orang Yunani dulu berbicara pula mengenai buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah (414). Menurut Plotinos, keindahan terbentuk apabila ada persatuan antara pelbagai bagian yang berbeda satu sama lain. Persatuan hanya bisa terjadi jika ada heteroginitas.
Dalam lingkungan Stoa, seni dikaitkan dengan keteraturan dan simetri, karena itu mendukung dan menimbulkan ketentraman jiwa. Tetapi bangsa Yunani juga mengenal pengertian keindahan dalam arti estetis yang disebutnya ‘symmetria’ untuk keindahan berdasarkan penglihatan (misalnya pada karya pahat dan arsitektur) dan ‘harmonia’ untuk keindahan pendengaran (musik).
Pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi: keindahan alam, seni, moral dan intelektual (hlm. 35).
Kualitas yang paling sering disebut adalah unity (kesatuan), harmony (keselarasan), symmetry (kesetangkupan), balance (keseimbangan) dan contrast (pertentangan) 416. Teori agung tentang keindahan menjelaskan bahwa: “keindahan terdiri dari perimbangan dari bagian2, lebih tepat perimbangan dan susunan dari bagian2, atau lebih tepat lagi terdiri dari ukuran, persamaan dan jumlah dari bagian2 serta hubungan2 satu sama lain (5. 22).
De Witt H. Parker menulis dalam bukunya The Analysis of Art mengenai ciri2 dari bentuk estetis. Buku yang lain, The Priciples of Aesthetics (1920) menyebut ciri2 umum dari bentuk estetika menjadi 6 asas, yaitu asas kesatuan utuh, asas tema, asas variasi menurut tema, asas keseimbangan, asas perkembangan, dan asas hierarki (5.32).
Monroe Beardsley dalam Aesthetics: problems in the Philosophy of Criticism) yang menjelaskan adanya 3 ciri keindahan, a. Kesatuan; b. Kompleksitas; c. intensitas (5.33).
Agustinus juga menghubungkan keindahan dengan keselarasan, keseimbangan, keteraturan. Bagi Thomas Aquinas, keindahan harus mencakup 3 kualitas: integritas, proporsi atau keselarasan yang benar dan kecemerlangan.

RAGAM BAHASA SASTRA

 

Penggunaan bahasa yang khas menurut Wellek: bahasa sastra, bahasa sehari-hari, bahasa ilmiah

BAHASA ILMIAH BAHASA SASTRA
Pikiran Perasaan
Denotatif Konotatif, asosiatif
Simbol logika Ambigu, homonim
Lugas Ekspresif – sikap pembicara > pmbca

BAHASA SEHARI-HARI BAHASA SASTRA
Tidak Seragam: percakapan, perdagangan, keagamaan, bhs resmi, slank Lebih sistematis; ada kesatuan, kesengajaan
Fungsi Ekspresif
Penuh konsep irasional
Bertujuan mencapai sesuatu
Mempengaruhi sikap & tindakan
Perbedaan Pragmatik
Pengaruhi secara langsung Pengaruhi secara substil
Dalam dunia nyata Di luar dunia nyata
Aspek Referensial
Dunia realita Dunia imaginatif

RAGAM BAHASA MENURUT SLAMET SOEWANDI
RAGAM ILMU RAGAM SASTRA RAGAM JURNALISTIK
Mengungkapkan hal-hal yang bersifat ilmiah: pengutaraan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Oleh karena itu sifat umum dari ragam ini adalah pemakaian unsur-unsur bahasa selengkap dan sebaku mungkin Mengungkapkan kehidupan manusia secara utuh: harapan, kerinduan, keinginan, kegembiraan, kebencian, kegalauan, pikiran, angan-angan, cita-cita, dan “realistis”, dengan cara yang estetis: menyentuh manusia. Mengungkapkan hal-hal yang dialami, diketahui dan dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat. Hal2 itu berupa fakta (berita), opini, pemberitahuan, dsb. Sifat umum dari ragam ini adalah penggunaan unsur-unsur bahasa seefektif-efektifnya mengingat keterbatasan ruang dan waktu.

RAGAM BAHASA MENURUT WIDHARYANTO
BAHASA AKADEMIK Dalam lingkungan akademisi, “manusia kampus perguruan tinggi”, untuk menimba ilmu, mengembangkan ilmu serta memanfaatkannya.
Ungkapan, cara penuturan yang tepat dan seksama, lugas, objektif, rasional dalam mengungkapkan kebenaran, memiliki daya abstraksi untuk konsep-konsep dan teori.
BAHASA BISNIS Oleh para usahawan untuk meyakinkan orang lain, konsumen, agar mereka tersugesti dan tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu, misalnya membeli produk yang ditawarkannya (bahasa hiperbola)
BAHASA SASTRA Menonjol dalam daya kejut, daya imajinasi pengarangnya. Lebih bersifat emosional, mengandung ambiguitas, simbolisme bunyi, efek estetis, bersifat konotatif.

BAHASA FILSAFAT Medium penyampai hasil renungan kontemplatif yang sulit dipahami oleh orang awam karena sifat abstraksinya sangat tinggi, bahkan melebihi abstraksi bahasa akademik
BAHASA BERITA Oleh para jurnalis untuk menyajikan informasi faktual harus bersifat aktual/hangat, dekat (proximity) dengan persoalan pembaca, penting, memiliki nilai dalam masyarakat. Bahasa berita sederhana, mudah dipahami, singkat, padat, tak bertele-tele, dan komunikatif.

Oleh Wellek, sastra dikatakan bersifat tertulis (menggunakan bahasa: tulis, lisan), mahakarya, imaginative atau konotatif, menggunakan bahasa yang khas.
Bahasa Sastra dibanding dengan bahasa ilmiah, bahasa sehari-hari, dan bahasa jurnalistik, memiliki kekhususan, yaitu afektif- emosional (menonjolkan unsur perasaan), estetis, ambigu, konotatif, simbolis, dan memiliki daya kejut. Bahasa sastra dikatakan sebagai bahasa bergaya.
Sastra sebagai seni memiliki sifat-sifat yang kreatif. Kreatif artinya mampu menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum ada menjadi ada. Orang yang kreatif harus selalu tidak puas dengan yang ada. Selalu mencari yang baru. Mencari sesuatu yang lain daripada yang sudah ada. Dia harus berani lain daripada yang lain. Kalau perlu Menyimpang dari yang sudah ada. Yang penting bagaimana dia bisa menciptakan suatu keindahan.
Puisinya Moh. Yamin merupakan contoh sebagai ekspresi perasaan kagum terhadap tanah air Indonesia. Di samping itu pada jamannya puisi Moh. Yamin ini merupakan sesuatu yang baru dibanding puisi umumnya (pantun, syair, gurindam, seloka, dsb)

Indonesia, Tumpah Darahku
(seorang mahasiswa/i diminta mendeklamasikan dan membayangkan dia duduk di pantai)

Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gemunung bagus rupanya
Dilingkari air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya

Lihatlah kelapa melambai-lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai-berai
Memagar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengejari bumi ayah dan ibu
Indonesia namanya, tanah airku

Bahasa Sastra juga merupakan bahasa bergaya, yaitu bahasa dengan maksud untuk menarik perhatian pembaca. Untuk menarik perhatian, bahasa sastra harus memiliki sesuatu yang menonjol. Usaha untuk menarik perhatian sering berupa sesuatu yang baru, menyimpang, lain daripada yang lain. Contoh puisi Chairil,

ISA

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar Tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
Aku berkaca dalam darah

Sutardji C. Bachri,

Tragedi Winka dan Sihka

Kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
sihka
sihka
sihka

Rendra
UNDANGAN

Dengan segala hormat
Kami harapkan kedatangan tuan nyonya dan nona
untuk menghadiri kami dikawinkan ….

Bahan roti dalam adonan
Tepung dan ragi disatukan
Pohonan bertunas dan berbuah
Benih tersebar dan berkembang biak
Di seluruh muka bumi.

Tempat:
Di gereja St. Yosef, Bintaran, Yogyakarta ….

Rumah Tuhan yang tua
Pangkuan yang aman Bapa Tercinta.
Segala kejadian
Mesti bermula di suatu tempat
Pohon yang kuat
Berakar di bumi keramat.

Waktu:
Selasa, tempat 31 Maret 1959
Jam 10 pagi, waktu di Jawa …..

Hari baru terbuka
Menyambung lingkaran waktu
Berputar tak bermula
Sejak cahaya yang pertama
……….

Dengan segala hormat
Kamu ucapkan terimakasih
Sebelum dan sesudahnya

Bahasa Sastra adalah Bahasa Bergaya. Ciri bahasa sastra dapat dilihat dari gaya bahasanya, yaitu penggunaan bahasa secara khusus yang menimbulkan efek tertentu, efek estetis. Menurut Slametmuljana (dan Simorangkir Simanjuntak, Tanpa tahun: 20) gaya bahasa (ekspresif) yaitu susunan perkataan yang terjadi karena perasaan2 dalam hati pengarang yang menimbulkan perasaan tertentu dalam hati pembaca. Menurut Gorys Keraf (1984: 113) bahwa gaya bahasa itu cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Menurut Kridalaksana (1983: 49-50) bahwa gaya bahasa adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, untuk memperolah efek2 tertentu.
Gaya bahasa juga digunakan dalam bahasa sehari-hari maupun bahasa ilmiah, tetapi gaya itu tidak disengaja untuk mendapatkan nilai estetis, di samping biasanya bersifat klise (kebiasaan) saja. Dalam bahasa sastra, gaya bahasa dieksploitasi secara sengaja dan sistematis, untuk mendapatkan efek estetis.
Bahasa sastra menekankan kreaitivitas dan keaslian. Itulah sebabnya pengarang selalu berusaha membentuk gaya bahasa asli dan baru.
Pada umumnya gaya bahasa merupakan defamiliarisasi atau diotomatisasi, yaitu penyimpangan dari bahasa normatif (menurut Skhlovsky dalam Hawkes, 1978: 62). Menurut Jakobson (1978:363), gaya bahasa merupakan harapan yang dikecewakan (frustrated expectation).

Contoh lain dari Iwan Simatupang (Ziarah) dan Danarto (Rintrik).
Diksi Danarto

“Dataran tandus dataran batu, tumbuh lurus tak kenal waktu.” (Armagedddon)
“Gagak-gagak hitam bertebahan dari angkasa, sebagai gumpalan-gumpalan batu yang dilemparkan, kemudian mereka berpusar-pusar, …”
“Matahari makin condong, bagai gumpalan emas raksasa yang bagus, membara menggantung di awang-awang…”
“Hujan deras membasahi angin dan angin menerbangkan hujan bagai anak panah salju dan hujan dan angin itu dibelah-belah petir dan ekor-ekor petir jadi melempem oleh suasana dingin yang beku bagai kerupuk dalam lemari es. “ (dari cerpen yang berjudul gambar hati tertusuk anak panah, dengan tokoh Rintrik).

Diksi Iwan Simatupang
“Juga pagi itu dia bangun dengan rasa hari itu dia bakal bertemu isterinya di salah satu tikungan, entah tikungan mana. Sedang isterinya telah mati entah berapa lama.”
“Geledek seolah menggegar dalam tubuh opseter kita. “
“Kemelut dalam dirinya memuncak. Nuraninya berbenturan dengan kesediaan dan kebukaan hati kawan barunya ….”
“…Tiap langkahnya adalah dia yang ziarah pada kemanusiaan.
Pada dirinya sendiri.”

Merpatiku

Merpatiku…
Biarkan ia terbang bebas
Melayang mengitari langit lepas
Temukan nyawa yang hilang

Meliuk tanpa batas
Kepakkan sayap kibaskan semangat
Mencari tentang hakikat sejati
Membawa misi kebaikan dirinya

Sejauh mata memandang bebas terbang
Karena suatu saat ia pasti kembali
Setia kepada pasangan yang selalu menanti
Karena ia setiaku sampai abadi

S E T I A K U

Aku masih terdiam di sini kasih.
Membisu seribu bahasa.
Bukan kutak lagi menyayangi.
Aku telah dihempas seribu tanya tentangmu.

Masih adakah segurat rindumu untukku?
Atau segalanya telah musnah bersama cerita.
Cerita tangis dan bahagia bersama.

Bersama senja memucat ku kabarkan tanyaku.
Masih adakah harapan tersisa untukku.
Atau segalanya telah berlalu.
Bersama gerimis petang menghadang.

Setiaku ini tak pernah ternoda.
Apalagi demi sebuah cinta baru untukku.
Tidakkah masih kau rasakan gemericik rinduku.
Yang menghiasi mimpi di setiap tidurmu.
Aku menunggumu…
Tanpa batas waktu